Kasih Menurut Santo Paulus Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Umat Dewasa Ini (Sebuah Tinjauan Teologis-Biblis Terhadap Teks 1Kor 13:4-7)

TALO, Hieronimus (2019) Kasih Menurut Santo Paulus Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Umat Dewasa Ini (Sebuah Tinjauan Teologis-Biblis Terhadap Teks 1Kor 13:4-7). Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI-dikonversi (1).pdf

Download (213kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (204kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (153kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (301kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (416kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (210kB)

Abstract

Manusia adalah ciptaan yang istimewa. Disebut istimewa karena “diciptakan oleh Allah menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27), manusia menduduki tempat khusus dalam ciptaan. Sebagai pribadi, manusia adalah yang sadar akan diri sendiri. Kesadaran ini bersumber pada aspek kerohanian dan rationya. Dengan kesadaran, manusia mempertimbangkan kualitas tindakannya. Ia dapat berpikir serta merefleksikan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial. Sebagai ciptaan yang dijiwai oleh roh, manusia juga diciptakan dengan kehendak bebas “yang adalah lambang yang unggul citra ilahi dalam diri manusia”, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupannya yang bahagia dengan cara manusia bebas memilih arah hidupnya dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. Namun, manusia dari awal sejarahnya, karena terpengaruh oleh yang jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya”. Ia jatuh dalam godaan dan telah melakukan yang jahat. Memang ia masih merindukan yang baik, akan tetapi kodratnya telah dilukai oleh dosa asal. Ia condong kepada yang jahat dan dapat keliru. Hal inilah yang kemudian menyebabkan manusia tidak lagi menghayati martabatnya secara utuh karena manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat (Concupistentia). Banyak persoalan yang diciptakan oleh manusia entah itu karena kelemahan jiwa, suatu kesalahan, atau sebagai akibat otomatis dari struktur masyarakat yang salah. Kenyataan bahwa manusia adalah ciptaan yang tidak sempurna menimbulkan sebuah keretakan hubungan dalam berelasi antara manusia dengan Tuhan maupun antara manusia dengan manusia itu sendiri. Tuhan diabaikan dan timbul kemerosotan moral seperti: iri hati, penipuan, dendam, pemerkosaan, pembunuhan, dalam diri manusia sehingga hilanglah keharmonisan hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan manusia. Situasi dramatis “seluruh dunia” yang berada “di bawah kekuasaan si jahat” (1 Yoh 5:19), membuat kehidupan manusia menjadi suatu perjuangan. Sesudah jatuh ke dalam dosa, manusia tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah. Sebaliknya, Allah memanggil dia (Kej 3:9) dan memberitahukan kepadanya atas cara yang penuh rahasia karena Allah sangat mengasihi makhluk ciptaannya yakni manusia. Sebagai umat Kristiani kita percaya akan kasih. Gambaran tentang kasih dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru selalu mengarah pada hal yang baik. Kasih digambarkan sebagai ungkapan yang menunjukkan hubungan pribadi yang akrab dan dekat antara Allah dengan manusia serta manusia dengan sesamanya. Para teolog Gereja melalui konsili dan dokumen-dokumen yang dikeluarkan juga berbicara mengenai kasih. Misalnya santo Agustinus berkata: “Bila engkau melihat kasih, engkau melihat Tritunggal Maha Kudus”. Demikian juga Konsili Vatikan II berbicara mengenai kasih. Oleh karena itu, cinta kasih terhadap Allah dan sesama merupakan perintah yang pertama dan terbesar. Semua tindakan manusia haruslah sebagai ungkapan kasih yang mengusahakan kesejateraan seutuhnya manusia melalui sabda dan pelbagai bidang kehidupan manusia. Namun dewasa ini umat manusia dan khususnya umat kristiani berada dalam periode baru sejarahnya, masa perubahan-perubahan yang mendalam dan pesat berangsur- 2 angsur meluas keseluruh dunia. Perubahan-perubahan itu timbul dari kecerdasan dan usaha kreatif manusia, dan kembali mempengaruhi manusia sendiri, cara-cara menilai serta keinginan-keinginannya yang bersifat perorangan maupun kolektif, cara berpikir dan bertindak terhadap Tuhan maupun sesama. Terjadi banyak perubahan karena egoisme manusia, pertentangan, ketidakseimbangan dalam kehidupan moral manusia dengan sesamanya sehingga di banyak tempat terjadi pelanggaran moral berupa kejahatan yang menjatuhkan martabat manusia itu sendiri misalnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terjadi Peperangan, Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, iri hati, dendam, saling bermusuhan yang semua menimbulkan konflik-konflik dan kesengsaraan yang sebab sekaligus korbannya adalah manusia. Kenyataan dunia dewasa ini yang penuh dengan konflik-konflik yang disebabkan oleh egoisme manusia, bukan hanya terjadi dan dilakukan oleh umat yang beragama lain, melainkan juga dilakukan dan dirasakan oleh umat Kristen pada umumnya. Bahkan umat Kristiani sendiri kerap kali menjadi serigala bagi sesamanya melalui tindakan yang mementingkan egonya. Sesamanya tidak lagi dipandang sebagai pribadi melainkan sebagai objek. Relasi dalam bentuk kasih antara Tuhan dan manusia serta manusia dengan sesamanya diabaikan dan sikap kasih hanya menjadi pelengkap atau pemuas keinginan ketika dibutuhkan. Rasul Paulus dalam ajarannya mempertegas tentang ciri dan sifat kasih sebagai kebajikan yang melebihi segala kebajikan. Ia adalah kebajikan ilahi yang paling utama: “ Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman, harap dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13). Baginya kasih adalah ungkapan langsung kepada Allah melalui sesama yakni kasih persaudaraan yang secara tersirat dihubungkan dengan iman dan harapan. Kasih yang paling riil dalam mengasihi Allah adalah dengan mengasihi sesama manusia. Sikap kasih adalah sikap yang selalu mementingkan orang lain, sebuah sikap yang memperhatikan orang lain dan bukan mengutamakan pribadi. Namun, sebagai orang yang menjadikan Kristus sebagai dasar dalam mengasihi semua tindakan haruslah menjadi gambaran dari Yesus Kristus yang selalu memberikan diri untuk manusia, sehingga orang kristiani haruslah besar dalam iman, harapan, kasih dan diantara semua itu yang terbesar ialah kasih.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BS The Bible
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: andre berek
Date Deposited: 18 Oct 2019 03:19
Last Modified: 18 Oct 2019 03:19
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1024

Actions (login required)

View Item View Item