Penilaian Moral Kristiani Terhadap Praktek Masturbasi (Di Kalangan Pelajar SMA Kota Kupang)

KOLI, Primus Damian (2017) Penilaian Moral Kristiani Terhadap Praktek Masturbasi (Di Kalangan Pelajar SMA Kota Kupang). Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
01 JUDUL.pdf

Download (368kB)
[img] Text
02 BAB I.pdf

Download (161kB)
[img] Text
03 BAB II.pdf

Download (160kB)
[img] Text
04 BAB III.pdf

Download (175kB)
[img] Text
05 BAB IV.pdf

Download (271kB)
[img] Text
06 BAB V.pdf

Download (140kB)

Abstract

Dalam pandangan tradisional masturbasi dianggap sebagai tabu, tak layak di bicarakan apalagi dipraktekkan.Segala macam tindakan Masturbasi disamaratakan dan dipandang sebagai dosa berat. Praktek masturbasi disebut sebagai “dosa terlarang, bahkan dikategorikan sebagai tindakan asusila-maksiat. Namun dalam dunia modern dewasa ini, pemahaman tradisional di atas mengalami pergeseran. Praktek masturbasi tidak lagi sesuatu yang tabu. Bahkan mereka yang melakukan masturbasi tidak merasa bersalah dan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Pergeseran pemahaman ini disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya: perubahan gaya hidup, lingkungan sosial yang permisif, dan secara khusus karena pengaruh kemajuan teknologi yang semakin pesat. Biasanya kebiasaan menonton, gambar atau film porno memicu seseorang untuk melakukan praktek masturbasi. Secara moral, praktek masturbasi merupakan tindakan imoral, karena dianggap sebagai penyalahgunaan terhadap diri sendiri1 dan berorientasi pada pemuasan hasrat seksual. Masturbasi adalah pemuasan seksual penuh, entah karena rangsangan terhadap diri atau tindakan- tindakan erotis dengan orang lain tanpa persetubuhan.Memang pada umumnya, praktek masturbasi biasanya dilakukan secara “solitario” (secara sendirian, tersembunyi, tanpa kehadiran atau dilihat oleh orang lain). Masturbasi merupakan salah satu bentuk pemuasan seksual yang bersifat “auto­erotis” yakni pemuasan seksual dengan merangsang diri sendiri. 1 Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF, Moral dan Masalahnya, (Yogyakarta; Kanisius, 1990), hal.44 Penilaian moral terhadap praktek masturbasi perlu juga dipertimbangkan unsur situasi dan motivasi.2 Kriteria baik buruknya sebuah tindakan moral ditentukan oleh tiga faktor: objek (apa yang dilakukan), situasi (kapan dan di mana dilakukan ), dan motivasi (tujuan yang hendak dicapai dari tindakan). Jika hal itu dilakukan demi kepuasan erotis semata sebagai ungkapan egosentrisme seksual,maka hal itu tidak dapat dibenarkan secara moral.Namun jika tindakan itu terjadi tanpa disadari sepenuhnya oleh orang yang sedang mengalami stress atau menderita kelainan yang sama sekali tidak dapat disembuhkannya sendiri,maka pada kasus seperti ini penilaian kita harus lebih bijaksana.Mungkin lebih berguna jika kita membantu untuk memecahkan persoalannya dari pada kita memberikan penilaian negatif atas tindakannya. Penilaian semacam itu, tanpa pendekatan personal dan bantuan yang memadai, dapat menyebabkannya merasa terisolir dan memungkinkannya untuk meneruskan kebiasaan buruk itu3..

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
L Education > LB Theory and practice of education > LB1603 Secondary Education. High schools
R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1001 Forensic Medicine. Medical jurisprudence. Legal medicine
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Andreas M. Pati
Date Deposited: 16 Dec 2019 05:05
Last Modified: 16 Dec 2019 05:05
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1031

Actions (login required)

View Item View Item