Ekaristi Sebagai Puncak Perayaan Syukur Dalam Upacara Reba Bagi Masyarakat Adat Kampung Toda Kelurahan Toda Belu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada

LADO, Eufronius Meka (2023) Ekaristi Sebagai Puncak Perayaan Syukur Dalam Upacara Reba Bagi Masyarakat Adat Kampung Toda Kelurahan Toda Belu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (1MB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (291kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (288kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (304kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (311kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (300kB)

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi oleh orang-orang katolik adalah bagaimana menyelaraskan kehidupan budayanya dengan kehidupan menggereja. Proses penyelarasan ini terkadang menemui hambatan dan rintangan yang tidak kalah ringan. Persoalan seperti ini muncul pula pada masyrakat Ngadha, yang masih dengan amat setia menghidupi dan mewarisi tradisi kebudayaannya. Salah satu puncak dari kehidupan kebudayaan orang Ngadha adalah perayaan reba. Reba merupakan upacara adat yang bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan rasa terima kasih terhadap jasa para leluhur. Melalui upacara ini, keluarga dan masyarakat meminta petunjuk kepada tokoh agama dan tokoh adat untuk dapat menjalani hidup lebih baik pada tahun yang baru. Sehari sebelum perayaan Reba dimulai, dilaksanakan upacara pembukaan Reba (Su’i Uwi). Pada malam Su’i Uwi dilakukan acara makan minum bersama (ka maki Reba) sambil menunggu pagi. Pada pagi harinya, ketika upacara berlangsung, para tamu disediakan makanan dan minuman yang sudah matang dan siap dimakan (Ngeta bhaghi ngia, mami utu mogo. Ka si papa vara, inu si papa resi). Hidangan utama dalam pesta ini adalah ubi. Bagi warga Ngada, ubi diagungkan sebagai sumber makanan yang tak pernah habis disediakan oleh bumi. Karena itu, warga Ngada tidak akan pernah mengalami rawan pangan ataupun busung lapar. Adat Reba biasa dilakukan tiga sampai empat hari. Sebelum pelaksanaan upacara tari-tarian dan nyanyian (O Uwi) diadakan misa inkulturasi di gereja yang dipimpin oleh seorang pater atau romo. Beberapa rangkaian upacara juga diiringi dengan koor nyanyian gereja, dan menggunakan bahasa lokal Ngada. Upacara ini memang memadukan unsur adat , suasana upacara adat bertambah meriah, ketika para penonton dan penari disodori satu dua gelas arak (tua ara). Ini merupakan tradisi setiap orang Ngada yang hadir dalam upacara tersebut. Namun demikian, Reba tidak sekadar pesta hura-hura, tapi wujud kegembiraan (gaja gora) masyarakat Ngada dengan tetap menjaga nuansa rohani dengan agama.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Reba, Syukur, Ekaristi
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Fil Eufronius Meka Lado
Date Deposited: 02 Oct 2023 03:06
Last Modified: 02 Oct 2023 03:06
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/14531

Actions (login required)

View Item View Item