Filsafat Nama Menurut Pi’i Pato’ Pada Kebudayaan Maronggela, Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur

YUSTUS, Krisantus (2019) Filsafat Nama Menurut Pi’i Pato’ Pada Kebudayaan Maronggela, Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
Abstraksi.pdf

Download (559kB)
[img] Text
bab 1.pdf

Download (526kB)
[img] Text
bab 2.pdf

Download (549kB)
[img] Text
bab 3.pdf

Download (580kB)
[img] Text
bab 4.pdf

Download (943kB)
[img] Text
bab 5.pdf

Download (788kB)

Abstract

Manusia secara eksistensial bersifat dwitunggal, sebagai individu sekaligus berkodrat sosial “ens sociale”. Sebagai individu manusia itu “ada” dalam dirinya, unik, tak ada duanya, ia pribadi yang otonom, berdiri sendiri dan berhak menjadi diri sendiri. Setiap individu berhak mempergunakan kebebasan dan inisiatifnya. Individu bisa eksis tanpa harus terlalu bergantung pada intervensi individu lain, berbuat sebebas-bebasnya berpusat pada kemampuan pribadi (egosentris) serta yakin akan kebenaran dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan orang lain. Hal ini bisa menimbulkan bahaya yang disebut individualisme. Dalam realitas kita tahu bahwa individu tidak bisa tidak, ada-nya selalu ada bersama orang lain. Penegasan terhadap individualitas justeru karena ada-nya orang lain. Individu terhubung dengan yang lain. Keterhubungan dengan yang lain itu nyata, bahwa individu terlahir dari orang lain yaitu dari orang tuanya, bahkan ia terlahir sebagai mahluk yang belum sempurna dan lemah, sehingga menggantungkan nasib sepenuhnya kepada orang tua. Sejak kelahiran sesungguhnya unsur sosialitas sudah tampak dalam diri manusia. Individu membutuhkan orang lain, berinteraksi dengan orang lain demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Pada titik ini harus diterima bahwa manusia itu adalah mahluk sosial. Sebab manusia terhubung dengan yang lain. Jadi dua kodrat yang melekat pada manusia ini tidak bisa dilepas pisahkan, bahkan saling mempertegas kodrat masing-masing, sebagai individu yang otonom pada sisi lain dan sebagai mahluk sosial di sisi lainya. Keterhubungan dengan orang lain justeru mempertegas individualitas manusia. Sebagai individu otonom dan juga sekaligus mahluk sosial manusia saling terhubung demi kepenuhan hidupnya, sosialitas adalah kumpulan berbagai individu otonom membentuk xiv kebersamaan yang mutual, peleburan dalam kebersamaan tidak akan pernah menghilangkan otonomi individu, tentu masing-masing individu berbeda satu dengan yang lain. Anak kembarpun pasti akan selalu berbeda, macam-macam unsur pembeda baik secara psikis, biologis, identitas sosial, bakat dan sebagainya. Salah satu dari sekian banyak unsur pembeda antar individu yang satu dan individu yang lain adalah nama diri (proper name). Nama diri (proper name) itu spesifik, pembeda dari nama orang lain tetapi juga tanda pengenal. Dengan menyebut namanya, orang lain bisa mengklasifikasikan individu tersebut berkarakter seperti apa, berasal dari daerah tertentu, beragama tertentu. Namun jika menyebut nama individu lain tentu orang dapat mengklasifikasikan bahwa individu tersebut berasal dari daerah lain dan beragama lain. Selain sebagai tanda pembeda, nama juga adalah tanda pengenal, apa dan siapa serta bagaiman pribadi seseorang. Dari namanya orang lain bisa mengetahui siapa dirinya, darimana asalnya, apa agamanya. Memanggil nama seseorang berarti memanggil totalitas dirinya. Menghargai nama seseorang berarti menghargai existensi orang tersebut. Tetapi menghina nama seseorang, yang terhina adalah pribadi secara utuh dari orang bersangkutan. Menyebut namanya secara sopan itu menjadi suatu bentuk penghargaan terhadap dirinya.Nama mempunyai makna terhadap setiap pribadi. Setiap orang memiliki nama. Nama merupakan perwujutan, pengejawantahan sekaligus menjadi identitas pribadi seseorang. Seseorang dipanggil dengan namanya, menyebut nama tidak saja hanya mengeluarkan bunyi melalui huruf-huruf yang tersusun, melainkan mengandung makna pengakuan terhadap eksistensi pemilik nama. Pengakuan ini bersifat utuh, artinya menyebut nama seseorang dengan baik adalah mengakui eksistensi orang bersangkutan, sebaliknya melecehkan nama seseorang sama dengan melecehkan pribadi pemilik nama. xv Banyak orang yang berusaha untuk berbuat baik sesuai ukuran masyarakat dan agama agar ketika meninggalkan dunia ini nanti nama baiknya dihargai. Ada pepatah kuno berbunyi “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meniggalkan nama.” Nama baik identik dengan prilaku baik, yang identik dengan kebenaran dan terpuji, sehingga tidak tercela semasa hidupnya. Pengakuan akan kebaikan seseorang menghargai manusia, sebab menurut Abraham Maslow secara esensial manusia butuh dihargai (kebutuhan akan harga diri) butuh diakui keberadaanya. Pertama kebutuhan untuk dianggap kuat, mampu mencapai sesuatu, memadai, punya keahlian dan kompetensi, percaya diri untuk menghadapi dunia, mandiri dan bebas. Kedua manusia mempunyai keinginan untuk memilki reputasi dan prestise tertentu (didefinisikan sebagai penghargaan atau penghormatan dari orang lain), yang berupa status, kebanggaan kemenangan, dominasi, dikenal, diperhatikan, dianggap penting, martabat, atau apresiasi tertentu lainnya. Penghargaan karena prestasi akademik biasanya diberi gelar Master, Doktor dan penghargaan tertinggi yakni Professor. Gelar-gelar ini lalu ditambahkan pada nama seseorang. Nama memang sangat penting dan harus dihargai. Dalam berbagai kebudayaan, nama mengandung arti yang penting. Banyak suku mempertahankan sebagian tradisi dengan salah satunya melalui nama-nama yang diberikan pada anggota keluarganya, bahkan pemberian nama selalu disertai dengan kegiatan ritual baik bersifat agamis maupun bersifat kultural. Tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa si pemilik nama. Tidak jarang pula ketika nama yang diberikan kepada seseorang tidak cocok, nama itu membawa malapetaka, misalnya pemilik nama sakit-sakitan. Melakukan ritual pemberian nama secara baik selalu mengandung makna tersendiri bagi orang-orang yang menganut budaya tersebut. Sang proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia (Seokarno), dijuluki Putera Sang Fajar. Sesuai pemaparannya dalam buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat, makna Putera Sang Fajar itu xvi berkaitan dengan peristiwa kelahirannya. Beliau lahir pada saat matahari terbit, tepat di awal abad 20 yang penuh cerita ini yaitu tahun 1901. Karena di balik nama selalu ada makna, maka julukan Putra Sang Fajar kepada Soekarno tersirat harapan orang tua kepada dirinya yang dikemudian hari harus menjadi orang sukses, orang terpandang, dan orang yang memilki status sosial yang tinggi seperti analogi matahari. Inilah contoh bahwa makna sebuah nama itu terbentuk dari bagaimana nama itu didapatkan sehingga nama memilki makna tertentu. Namun oleh proses globalisasi, bola bumi (globe) kita menjadi kecil, jarak mendekat dan hubungan dipermudah dan dipererat. Sekarang ini (bila tersedia uang), dengan berbagai alat transportasi kita dapat pergi mengunjungi dan berpindah dari satu ujung bumi ke ujung bumi yang lain dengan cepat dan nyaman. Oleh berbagai alat media massa, radio, televisi, surat kabar, majalah, peristiwa yang terjadi di satu sudut dunia dengan segera dapat diketahui oleh orang- orang di berbagai sudut dunia yang lain. Pemikiran dan penemuan ilmu teknologi tersebar ke seluruh dunia dan berbagai ideologi entah secara jelas atau tersamar, masuk dan beroperasi di setiap ruang di atas bumi. Dunia kini semacam suatu desa global (global-village), tidak ada jarak dan tak ada pembatas. Globalisasi dalam bidang kebudayaan juga sangat terasa, tergantung kebudayaan mana yang lebih kuat pengaruhnya, kebudaya itulah yang akan diikuti oleh seluruh penghuni desa global (global-village) ini. Dari fakta yang ada umumnya Kebudayaan Barat lebih kuat pengaruhnya bagi dunia, masuk dan menggerus kebudayaan-kebudayaan lokal. Orang-orang di desa-desapun jika ingin eksis, maka harus ikut tren, mode terbaru, merubah gaya hidup (life style) yang datang dari Barat. Fenomena ini disebut “Westernisasi” (West = Barat. Western= Orang Barat), membaratkan budaya lokal. xvii Westernisasi mempengaruhi kebudayaan lokal, merubah cara pandang tentang makna kehidupan, konsekwensinya tampak dalam gaya hidup yang serba moderen. Unsur primordial dari individu tertantang oleh tawaran-tawaran kebudayaan Barat. Primordialisme agama dan budaya diwesternisasi. Salah satu bentuk primordial dari individu ialah nama diri. Nama diri adalah ekspresi primordial bahwa dia berasal dari kebudayaan tertentu dan beragama tertentu. Seharusnya unsur primordialis ini tetap terpelihara sebab tidak dapat dipungkiri seseorang terlahir dalam kebudayaan dan kepercayaan tertentu. Akhir-akhir ini juga unsur primordial dimodifikasi dan menjadi arti yang negatif. Namun, yang berbahaya adalah ketika orang mengidentifikasikan dirinya dengan unsur primordial, tetapi penyadaran akan ikatan primordial itu sangat disarankan, menandakan bahwa seseorang menyadari Ia beragama apa dan berasal dari kebudayaan mana. Problem weternisasi nama muncul ketika banyak orang tua yang tidak memahami apa arti sebuah nama, sehingga dalam pemberian nama kepada anaknya gagal merefleksikan makna terdalam dari nama tersebut tetapi tergantung penuh pada selera yang bersangkutan. Nama yang diberi misalnya diambil dari nama bintang film atau pesepak bola dunia bahkan nama artis papan atas idola orang tua. Hal ini membawa dampak di kemudian hari, ketika anak bertumbuh tidak sesuai namanya maka ia lalu tidak menghargai lagi nama yang diberikan oleh orang tuanya, anak tidak bisa bertumbuh seperti bintang film atau pesepak bola atau artis idola orang tua, sehingga sebebasnya anak-anak menyamarkan nama mereka demi penyembunyian identitas, tidak mampu menjadi apa yang diharapkan, tidak menghidupi spirit namanya. Problem di atas juga akhir-akhir ini terjadi pada masyarakat Maronggela, suatu kampung di Kabupaten Ngada. Pengabaian terhadap makna sebuah nama di masyarakat Maronggela xviii berdampak pada relativisme nilai. Anak-anak menjadi tidak hormat lagi kepada orang tua padahal dari namanya saja dia adalah anak-anak, beberapa kepala suku serta orang-orang yang mempunyai wibawa dalam masyarakat menjadi bingung dengan perannya, padahal nama itu jelas mempertegas peran yang harus dijalani. Kasus lain ketika anak tidak bertumbuh sesuai nama yang diberikan. Sebab hidup tidak sesuai nama akan terjadi kontradiksi, ketidakharmonisan. Sebagai bentuk perihatin penulis terhadap masalah westernisasi nama pada kebudayaan Maronggela maka penulis berusaha untuk meneliti secara mendalam ritual pemberian nama serta menemukan makna filosofis dari nama. Asumsi penulis, orang Maronggela seperti orang dari kebudayan-kebudayaan lokal lainya meyakini bahwa nama mengandung arti yang penting. Banyak suku mempertahankan sebagian tradisi dengan salah satunya melalui nama-nama yang diberikan pada anggota keluarga, bahkan pemberian nama selalu disertai dengan kegiatan ritual baik bersifat agamis maupun bersifat kultural. Tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa si pemilik nama. Tidak jarang pula ketika nama yang diberikan kepada seseorang tidak cocok, nama itu membawa malapetaka, misalnya pemilik nama sakit-sakitan. Tidak hanya dalam konteks budaya nama memilki arti yang penting. Hubungan sang pencipta dengan manusia dan sebaliknya terjadi dengan nama sebagaimana dialami oleh Musa, Yahweh menyebut diri-Nya sebagai AKU adalah AKU. (Keluaran 3 : 14). Bertolak dari hasil pengamatan penulis, di Maronggela masih dipraktekkan ritual pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. Ritual itu disebut Pi’i Pato’ (pemberian nama). Makna nama bagi masyarakat Maronggela justeru dibentuk pertama, dari bagaimana mereka menjalani Pi’i Pato’, yakni bahan-bahannya, orang-orang yang melakukan upacara tersebut serta xix doa-doa dalam yang diucapkan. Kedua, dari menafsir kata-kata atau analisis kata sebab setiap nama pasti memiliki arti tertentu. Nama itu menggambarkan seseorang yang berwatak tertentu. Kata bagaimana yang harus ditekan di sini, itu artinya metode penentuan sebuah nama bagi Masyarakat Maronggela sangat penting. Ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus digenapi dan tidak boleh dilanggar. Sebab jika dilanggar maka akan mendapatkan konsekwensi yang tidak diinginkan, seperti sakit-sakitan dan bahkan kematian. Masyarakat dari kebudayaan Maronggela sebenarnya memiliki filsafat hidup/pandangan hidup (way of life) sebagai pegangan dan norma tingkah laku. Berkaitan dengan nama, masyarakat kebudayaan Maronggela juga mayakini bahwa nama itu berdimensi masa lalu dan masa depan. Masa lalu berarti nama memang diambil dari nama kakek atau nenek sang bayi sebagai kenangan terhadap mereka, dan dimensi masa depan berarti ada harapan agar sang bayi bertumbuh sesuai nama yang diberikan kepadanya. Ketika bertanya “apalah arti sebuah nama” namun nama mempunyai makna terhadap setiap pribadi. Setiap orang memiliki nama. Nama merupakan perwujutan, pengejawantahan sekaligus menjadi identitas pribadi seseorang. Seseorang dipanggil dengan namanya, menyebut nama tidak saja hanya mengeluarkan bunyi melalui huruf-huruf yang tersusun, melainkan mengandung makna pengakuan terhadap eksistensi pemilik nama. Pengakuan ini bersifat utuh, artinya menyebut nama seseorang dengan baik adalah mengakui eksistensi orang bersangkutan, sebaliknya melecehkan nama seseorang sama dengan melecehkan pribadi pemilik nama. Dari problem di atas penulis dalam penelitian ini ingin mengulas tuntas tentang filsafat nama yang tersirat di balik tradisi Pi’i Pato’. Pada hakekatnya nama tidak asal-asalan saja tetapi adalah suatu tanda pribadi, suatu pengenal yang membedakan dirinya dari yang lain. Suatu xx keunikkan yang untuk orang lain tidak ada. Nama itu penting. Fokus penelitian penulis adalah di kampung Maronggela, karena pada prinsipnya orang Maronggela masih sangat menjunjung tinggi filsafat nama. Arti sebuah nama sangat penting bagi orang Maronggela, di mana nama seorang anak yang baru lahir diberi sesuai nama orang dari dalam anggota suku tersebut dan yang lazimnya nama itu adalah turunan dari nama kakek atau nenek si bayi. Peneliti melalui tulisan ini akan memepertanggungjawabkan bagaimana praktik pemberian nama pada kebudayaan Maronggela di satu sisi, yaitu mulai dari mekanismenya sampai pada struktur acara dan di sisi lain juga akan dipaparkan bagaimana nilai dan makna serta filsafat nama, sehingga sebagai judul umum penelitian ini penulis merampungnya menjadi FILSAFAT NAMA MENURUT PI’I PATO’ (PEMBERIAN NAMA) PADA KEBUDAYAAN MARONGGELA, KECAMATAN RIUNG BARAT, KABUPATEN NGADA, NUSA TENGGARA TIMUR.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Andreas M. Pati
Date Deposited: 01 Feb 2020 02:29
Last Modified: 01 Feb 2020 02:29
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1515

Actions (login required)

View Item View Item