Nilai-Nilai Religius Dalam Ritual Tudak Penti Di Kampung Teber-Manggarai Timur (Telaah Atas Upacara Syukuran Hasil Panen Dalam Etnis Budaya Manggarai)

LABUR, Basilius Hans Kurniawan (2019) Nilai-Nilai Religius Dalam Ritual Tudak Penti Di Kampung Teber-Manggarai Timur (Telaah Atas Upacara Syukuran Hasil Panen Dalam Etnis Budaya Manggarai). Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
abstraksi.pdf

Download (150kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (49kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (96kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (69kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (82kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (39kB)

Abstract

Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang kaya akan alam dan kebudayaannya. Di Indonesia terdapat ribuan suku yang mendiami sepanjang wilayah kepulauan. Setiap suku bangsa memiliki unsur kebudayaan mulai dari bahasa, upacara adat syukuran, tarian tradisonal, makanan, rumah adat dan unsur lain yang berbeda dengan suku lainnya. Kemajemukan dan keberagaman suku tersebut menampilkan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Penti adalah salah satu produk budaya lokal/ warisan leluhur orang Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur yang bernilai religius sebagai bentuk syukuran kepada Empo ‘leluhur’, Mori Jari Dedek ‘Tuhan Sang Pencipta’ dan ata pale sina ‘roh alam’ yang dilaksanakan oleh sekelompok masyarakat dalam situasi formal dan sukacita. Syukuran yang dimaksudkan adalah syukuran atas hasil panen dan keberhasilan dalam keluarga yang dipadukan bersama dengan intensi umum dalam upacara adat bersama. Upacara ini merupakan upacara yang sangat khas dalam adat atau kebudayaan Manggarai sebagai produk yang diciptakan nenek moyang berabad-abad yang lalu dan telah menjadi suatu warisan yang amat luhur. Kekhasannya adalah mencirikan keberadaan orang Manggarai sebagai suatu paguyuban budaya dan masyarakat yang mengemban budaya pertanian dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah yang dalam bahasa Manggarai disebut dengan uma golo. Penekanan utama Penti adalah bersyukur dalam suasana batin yang penuh sukacita, damai, bahagia, semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Dalam kaitan dengan ini ada kebiasaan yang mirip dengan mitologi Plato yaitu menerangkan seni dan budaya berakar dalam suatu kebaktian dan didasarkan atas sifat religius. Sesuai dengan konteksnya yaitu syukuran atas hasil panen yang telah rampung maka ritual Penti ini menjadi pesta penutupan tahun berkebun atau tahun baru adat pertanian bagi masyarakat Manggarai yang biasa dirayakan secara rutin dan intensif setiap tahun sebagai tanda bahwa musim sebelumnya sudah berakhir dan tahun musim tanam yang baru akan segera dimulai. Ritual Penti ditilik dari esensi dan orientasi isi pesan yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah miniatur etnografi budaya masyarakat Manggarai yang bersifat multidimensional dan sarat makna. Guratan nilai yang paling menonjol adalah nilai religius yang bergayut dengan persepsi masyarakat Manggarai tentang eksistensi Tuhan, roh leluhur, dan roh alam pada satu sisi dan persepsi tentang eksistensi diri mereka sebagai manusia dan masyarakat pada sisi yang lain. Nilai-nilai religius terkandung dalam ritual Penti dapat kita lihat dalam berbagai macam bentuk, misalnya dalam ungkapan-ungkapan verbal yang digunakan dalam teks wacana budaya Tudak Penti yang mewadahi dan mewahanai penyingkapan persepsi masyarakat Manggarai tentang eksistensi Tuhan sebagai Wujud Tertinggi. Itulah sebabnya dalam teks-teks verbal untuk ritual Tudak Penti banyak kita dengar ungkapan-ungkapan spiritual. Dalam kerangka budaya Penti, Tuhan itu dilihat sebagai Sang Pencipta dan Pemilik atau Penguasa Alam Semesta. Ungkapan verbal itu menggambarkan pula bahwa dalam persepsi masyarakat Manggarai, Tuhan dipahami sebagai Sang Pengayom yang penuh kasih sayang. Bumi disingkap secara metaforis sebagai fenomena alam yang menjadi sumber kesuburan sehingga tanaman di ladang bertumbuh subur dan memberikan hasil berlimpah (dani, becur). Langit dipahami sebagai sumber hujan yang mencurahkan kesegaran guna menunjang pertumbuhan tanaman di ladang, terutama jagung (latung) dan padi (woja), dan memberikan hasil berlimpah. Ritual adat Penti tetap dipertahankan walaupun dengan masuknya Agama Katolik di tanah Manggarai. Kewajiban adat tetap di jalankan dan kewajiban agama juga tetap dijalankan. Oleh karena itu pada masa sekarang Agama Katolik berinkultrasi dengan ritual Penti dalam suatu perayaan Ekaristi setiap kali mengakhiri ritual Penti itu sendiri. Konsili Vatikan II dalam Dokumen Lumen Gentium artikel 13 menunjukkan bahwa konsekuensi dari ciri dasar universalitas serta kekatolikan Gereja harus mampu menghargai dan menjaga keberagaman dalam dirinya. Dengan adanya inkulturasi maka nilai-nilai religi yang terkandung dalam setiap kultur kebudayaan tidak terabaikan begitu saja.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BH Aesthetics
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Andreas M. Pati
Date Deposited: 03 Feb 2020 04:22
Last Modified: 03 Feb 2020 04:22
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1540

Actions (login required)

View Item View Item