Peran Keluarga Dalam Pendidikan Moral Anak Sekolah Dasar Menurut Amoris Laetitia Artikel 263.

NGONGO, Florianus Emanuel (2019) Peran Keluarga Dalam Pendidikan Moral Anak Sekolah Dasar Menurut Amoris Laetitia Artikel 263. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (359kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (238kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (281kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (345kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (303kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (254kB)

Abstract

Keluarga adalah persekutuan orangtua dan anak-anak (keluarga batih). Keluarga merupakan suatu komponen masyarakat mini atau lembaga sosial alami. Keluarga merupakan sel terkecil dan terpenting. Keluarga (di samping sekolah dan masyarakat) memegang peranan penting dalam pendidikan anak. Hak maupun kewajiban orang-tua untuk mendidik bersifat hakiki, karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggota keluarga pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam fase pertumbuhannya, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah) hingga pada anak di masa sekolah dasar. Pada masa tersebut, apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya. Orangtua memiliki peranan penting dalam mendidik anak-anak bukan saja dalam aspek moral tetapi dalam beberapa aspek lainnya seperti aspek fisiologi, kognitif, afektif, sosial, dan religius. Karena keluarga adalah tempat pertama manusia belajar tentang kehidupan, tentang cinta kasih dan keadilan. Perlu diketahui tentang pengaruh cinta kasih ibu dan bapak terhadap anak dalam Amoris Laetitia. Seorang bayi yang dilahirkan, belajar mengenai hidup dan memaknai hidupnya melalui pengalaman hidup bersama ayah-ibunya. Dengan cara ini, mereka belajar bahwa keindahan relasi manusia menyentuh jiwa, mengupayakan kebebasan kita, menerima perbedaan orang lain, mengenali kasih dan menghormati mereka sebagai rekan dialog. Seperti itulah kasih, dan ia mengandung sepercik kasih Allah. Tugas untuk mendidik anak-anak sesungguhnya berakar dari panggilan dasar orang-orang yang menikah dan melahirkan keturunan. Dengan melahirkan manusia baru, serentak pula orangtua mengemban tanggung jawab untuk membesarkan manusia baru itu menjadi manusia yang manusiawi. Paus Fransiskus dalam Amoris Laetitia khususnya tentang ‘Pembentukan Etika Pada Anak-Anak’ artikel 263 menegaskan orangtua harus secara langsung ada bersama anak-anak, merasakan kehadiran mereka, memberi mereka teguran bila mereka berbuat salah. Dengan demikian dalam diri anak-anak ada rasa bahwa mereka benar-benar dipedulikan, jika tidak demikian akan menimbulkan kesulitan dalam masa pendewasaan mereka. Perkawinan dan keluarga dikehendaki sendiri oleh Allah sejak awal mula penciptaan manusia. Sementara, keluarga merupakan pusat kehidupan manusia, “sekolah kemanusiaan”, di mana segala kebaikan diajarkan, diterima dan dilakukan. Namun, dalam kenyataannya situasi keluarga tidak selalu indah dan baik sebagaimana dikehendaki Allah. Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Semua pihak dipanggil untuk mengasihi dan mencintai kehidupan keluarga, karena “keluarga xii bukanlah sebuah masalah; keluarga pertama dan utama adalah sebuah kesempatan” untuk bertumbuh dan berkembang menuju kepenuhannya. Paus Yohanes Paulus II juga menetapkan bahwa cinta kasih suami istri yang subur mengungkapkan diri dalam pelayanan kehidupan dengan berbagai cara. Cara melahirkan dan mendidik anak adalah yang paling langsung, khas, dan tidak tergantikan. Tanpa cinta kasih, keluarga tidak dapat hidup dan berkembang sebagai persekutuan pribadi. Cinta kasih itu kemudian ditunjukkan dan anak-anak turut merasakannya. Penegasan lebih lanjut disampaikan Paus Fransiskus mengenai peran orangtua. Mereka harus mengambil peran utama ini dan melaksanakannya dengan sadar, penuh semangat, masuk akal dan tepat. Oleh karena itu, masa kanak-kanak awal amatlah menentukan apakah seseorang kelak menjadi pribadi yang riang gembira atau yang bermuram durja, pandai bergaul dan bersahabat atau seorang penyendiri, gemar bekerja atau malas melempem. Oleh karena itu, orangtua yang menjadi pendidik utama memiliki tanggung jawab dan semangat yang sungguh serta kelihaian dalam mendidik anak-anak untuk hidup dan berkembang lebih baik dalam segala aspek hidup mereka khususnya dalam aspek moral. Melihat begitu besarnya peran orangtua dalam pembinaan moral anak, maka penulis merasa tergugah untuk menggali dan berusaha menemukan beberapa solusi yang ditawarkan oleh Sri Paus Fransiskus dalam ensiklik Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) yang dikemas dalam satu judul: PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN MORAL ANAK SEKOLAH DASAR MENURUT AMORIS LAETITIA ARTIKEL 263.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology > BV1460 Religious Education
H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: andre berek
Date Deposited: 05 Feb 2020 02:24
Last Modified: 05 Feb 2020 02:24
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1718

Actions (login required)

View Item View Item