Ritus Urrata Sebagai Media Komunikasi Ilahi Bagi Masyarakat Kabhissu (Suku) Wee Lewo Di Kampung Kawowara, Sumba Barat Daya

LENDE, Yohanes (2019) Ritus Urrata Sebagai Media Komunikasi Ilahi Bagi Masyarakat Kabhissu (Suku) Wee Lewo Di Kampung Kawowara, Sumba Barat Daya. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI,PENGESAHAN, DAFTAR ISI.pdf

Download (601kB)
[img] Text
Skripsi bab I.pdf

Download (435kB)
[img] Text
Skripsi bab II.pdf

Download (786kB)
[img] Text
Skripsi bab III.pdf

Download (540kB)
[img] Text
Skripsi bab IV.pdf

Download (523kB)
[img] Text
Skripsi Bab V.pdf

Download (1MB)

Abstract

Urrata adalah suatu istilah yang dipakai oleh Masyarakat Sumba dalam kaitan dengan ritual keagamaan. Perlu diketahui bahwa masyarakat Sumba pada umumnya memiliki aliran kepercayaan yang sangat khas disebut Marapu. Marapu adalah bentuk kepercayaan Masyarakat Sumba terhadap roh para leluhur yang diyakini telah bersatu dengan Yang Ilahi. Dalam kepercayaan Marapu, terdapat beberapa ritus penting yang dilaksanakan untuk membangun komunikasi dengan Yang Ilahi melalui roh para leluhur atau Marapu. Ritus Urrata adalah salah satu ritus yang melaluinya masyarakat Kabhissu Wee Lewo bisa membangun komunikasi dengan roh leluhur atau Marapu. Ritus Urrata dilaksanakan paling pertama, karena itu menjadi ritus paling penting dalam ritual keagamaan Marapu. Mengapa dikatakan penting, karena hanya melalui Ritus Urrata kita dapat berlangkah ke ritus-ritus lainnya dalam ritual keagamaan Marapu. Ritus Urrata dilaksakan paling pertama atau bisa disebut ritus pembuka dalam ritual keagamaan Marapu. Ritus Urrata menjadi sarana atau media bagi masyarakat Kabhissu Wee Lewo di Kampung Kawowara untuk mulai berkomunikasi dengan leluhur. Masyarakat Kabhissu Wee Lewo melaksanakan Urrata apabila menghadapi masalah-masalah yang cukup serius dalam hidup. Misalnya, sakit yang tidak terdeteksi di rumah sakit. Atau masalah lain misalnya kemalangan, kecelakaan, kelaparan, kegagalan, kematian tidak wajar, dan seterusnya. Masalah-masalah tersebut diyakini sebagai akibat dari perbuatan manusia di bumi sehingga ia mengalami nasib yang begitu malang. Ada suatu keyakinan bahwa leluhurlah yang marah, sehingga mendatangkan malapetaka terhadap manusia. Dengan kata lain, relasi antara manusia dengan leluhur telah retak akibat perbuatan manusia yang tidak xiii dikehendaki oleh leluhur. Maka, untuk memulihkan relasi yang telah retak, manusia harus melaksanakan ritus perdamaian dengan leluhur yang diawali dengan Ritus Urrata. Dalam Ritus Urrata, para leluhur diundang oleh Rato („Imam Marapu‟) dengan cara menghamburkan sirih-pinang dan beras dan disertai dengan ungkapan adat: “dheiba wi yasa pamama, o ina kawedha, ama kawedha”, artinya: „terimalah beras, sirih dan pinang ya para leluhur.‟ Beras dan sirih-pinang sebagai lambang „surat undangan‟ terhadap Marapu agar hadir pada saat pelaksanaan Urrata. Setelah menghamburkan beras yang disertai sapaan terhadap leluhur di atas, Rato (Imam Marapu) kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada leluhur dalam bentuk syair-syair adat. Pertanyaan-pertanyaan itu dirancang sedemikian rupa sehingga jawaban yang diberikan oleh leluhur antara ya atau tidak. Lalu para leluhur akan menjelaskan mengapa hal itu menimpa keluarga dan bagaimana selanjutnya untuk menghindarinya. Dengan demikian, keluarga dituntut untuk memulihkan kepincangan-kepincangan itu melalui tahapan berikutnya setelah ritus Urrata. Tahapan berikut misalnya, Saiso („menyanyikan syair-syair adat diiringi gong‟), Payawau („yel-yel adat sebagai tanda setuju atau dalam agama dikenal kata „amin‟), Tunu („pesta adat‟), dan masih banyak tahapan-tahapan selanjutnya. Dengan melewati tahapan-tahapan tersebut, menurut kepercayaan masyarakat Marapu, keluarga sudah diringankan dari beban adat yang menindih. Kalau keluarga sungguh-sungguh menaati adat, maka setelah melewati beberapa tahap itu, tidak akan ada lagi bencana yang menimpa keluarga tersebut. Sering terbukti bahwa keluarga diluputkan dari bencana-bencana yang melanda hidup mereka, jika penyebabnya adalah adat. Tindakan keluarga memulihkan adat hanya terjadi melalui Ritus Urrata. Memulihkan adat adalah memulihkan relasi dengan leluhur, karena leluhur adalah pengantara manusia dalam berkomunikasi dengan Yang Ilahi. Dengan alasan itulah penulis menyimpulkan bahwa “Ritus Urrata adalah Media Komunikasi Ilahi Bagi Masyarakat Kabhissu Wee Lewo Di Kampung Kawowara, Sumba Barat Daya.”

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BS The Bible
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
H Social Sciences > HM Sociology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: andre berek
Date Deposited: 06 Feb 2020 04:33
Last Modified: 06 Feb 2020 04:33
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1725

Actions (login required)

View Item View Item