Konsep Etika Tanggung Jawab Perspektif Emanuel Levinas

COSTA, Sebastião Pedro Soares Acoit Da (2019) Konsep Etika Tanggung Jawab Perspektif Emanuel Levinas. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
COVER, KATA PENGANTAR, LEMBAR PENGESAHAN, DAFTAR PUSTAKA DAN ABSTRAKSI.pdf

Download (334kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (295kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (300kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (327kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (346kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (332kB)

Abstract

Dalam realita sosial, ada begitu banyak fakta yang menunjukkan kejanggalan moralitas yang terjadi dalam kehidupan manusia, terlebih khusus di era moderen ini. Kejanggalan moralitas tersebut terjadi karena hilangnya penghayatan jati diri manusia, yang dengannya terciptalah jurang yang amat dalam antara nilai-nilai etis dan perilaku manusia itu sendiri, maksudnya bahwa nilai-nilai etis yang sebenarnya menjadi jiwa penggerak seluruh tingkah laku manusia menjadi terpisah dengan sendirinya. Keduanya tidak lagi menyatu dan tertanam dalam diri pribadi seseorang yang dengannya dapat sungguh-sungguh memanusiakan dia, dalam membangun hubungan atau relasi yang baik dengan orang sekitarnya, sebagai manusia yang bermoral. Kelahiran konsumerisme dan pergeseran nilai etis terhadap manusia dan alam menandai hilangnya rasa tanggung jawab etis. Kecenderungan untuk menghindari tanggung jawab individu yang harus diemban, semestinya telah berakar dalam pemikiran manusia sebagai dasar pola pikir dewasa ini. Perubahan paradigma ini menjadikan manusia semakin kehilangan jati diri sebagai makhluk yang berakhlak. Fenomena ini semakin terasa berat untuk dihilangkan ketika tanggung jawab terhadap „yang lain‟ semakin dielakkan dan dijauhkan. Sekularisme radikal yang tak disaring menyeret ide setiap pribadi untuk bertindak dan berpikir tentang dirinya sendiri dan terbawa arus ke egoistik. Kesadaran akan kehadiran orang lain merupakan suatu halangan yang bisa menghambat setiap tujuan yang hendak dicapai. Dalam relasi keseharian, hanya berlaku relasi subyek-obyek baik dengan manusia maupun dengan dunia. xii Tanggung jawab adalah aspek penting dalam kehidupan sosial. Melalui tanggung jawab aku senantiasa bereksistensi. Aku senantiasa berada bersama orang lain dan terarah kepada orang lain. Saat inilah aku menyadari bahwa aku bukan pusat, sentral dari segala aktifitas pemaknaan hidupku. Pemaknaan akan diriku baru terlaksana saat aku dan yang lain berhadapan. Aku dan Yang Lain akan saling mengadakan satu sama lain. Hal demikian terjadi ketika aku bertanggung jawab. Aku menjadi aku ketika keegoisanku keluar dan bertanggung jawab untuk Yang Lain. Hal ini merupakan keterbukaan subyek terhadap Yang Lain tetapi bukan satu keterbukaan total. Aku selalu bersama mereka Yang Lain. Emanuel Levinas tampil dengan etikanya yang menjembatangi persoalan etis yang tengah dialami manuisa zaman sekarang. Etika tanggung jawab Levinas bermuara pada “Etika wajah” yang dikembangkannya. Proses perjumpaan dengan orang lain menuntut kesadaran kita untuk bertanggung jawab atas seluruh pribadinya dalam penampakan wajah itu. Dalam pembahasaannya mengenai penampakan wajah, Levinas meminjam istilah agama “epiphania” (penampakan yang Ilahi). Epiphania terjadi apabila “wajah mengekspresikan diri” artinya, apabila orang itu menyapa kita bukan seakan-akan sapaannya lebih kuasa daripada kekuasaan saya, melainkan berhadapan dengan wajah orang lain kekuasaan saya tidak berdaya. Dalam wajah, orang lain menyatakan diri sebagai yang betul-betul lain dari saya. Tanggung jawab kita kepada orang lain melalui wajah yang hadir di hadapan kita dengan ekspresi-ekspresinya menjadikan kita berada sebagai subjek yang otonom. Wajah adalah seruan etis yang jadi gugatan terhadap otonomiku sebagai subjek sehingga aku menjadi akusatif dan harus keluar dan terbuka dengan dunia di luar diriku. Dalam fenomenologinya, Levinas hendak mengemukakan bahwa setiap manusia berfilsafat tidak ditujukan untuk memikirkan sesuatu melainkan lebih dari pada itu kita mengamati apa yang menunjukkan diri dan apa yang terjadi ketika kita bersama orang lain. Kerangka subjek-objek didobraknya dan mengarahkan setiap manusia ke dalam relasi subjek-subjek. Pengandaian ini xiii membuka cakrawawala baru melihat munculnya orang lain di hadapan kita. Tanggung jawab yang bisa disebut primordial itu, membebani kita setiap kali berhadapan dengan “orang lain” („autrui’/l’autre, ‘the other’). Itulah posisi inti Levinas. Maka bagi Levinas, kenyataan yang paling mendasar adalah peristiwa yang terjadi setiap hari: ketika saya bertemu dengan seseorang, begitu orang itu menatap saya, saya mau tidak mau sudah bertanggung jawab atasnya. Keterikatan dalam tanggung jawab total terhadap sesama itu adalah data paling pertama dalam segala orientasi kita. Aku yang bertanggung jawab untuk Yang Lain adalah subyek yang menerima dan menghargai Yang Lain dengan keberlainannya. Aku membuka diri bagi keunikan Yang Lain dalam tanggung jawabku. Pereduksian Yang Lain sebagai objek ditanggulangi dengan sebuah kerelaan untuk menjawabi undangan etis dari kepolosan dan ketelanjangan yang lain. Sebuah seruan etis yang menggugatku untuk bertanggungjawab atasnya, yang secara primordial dan asimetris, tanpa mengharapkan untuk mendapat balasan dan tanggung jawabku sungguh membuat diriku ada sebagai yang bereksistensi. Yang lain itu ialah Aku makin mengada tatkala yang lain menyambut sapaan aku. Cogito ergo sum milik Descartes bisa diganti dengan Respondeo ergo sum ( aku bertanggung jawab, maka aku ada).

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Kom Sela Mikado
Date Deposited: 06 Feb 2020 04:40
Last Modified: 06 Feb 2020 04:40
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1751

Actions (login required)

View Item View Item