Memperjuangkan Kemerdekaan Manusia Dalam Telaah Antropologis Nicolaus Driyarkara

EKO, Herminus Kono (2019) Memperjuangkan Kemerdekaan Manusia Dalam Telaah Antropologis Nicolaus Driyarkara. Diploma thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
Abstraksi.pdf

Download (518kB)
[img] Text
Bab I.pdf

Download (196kB)
[img] Text
Bab II.pdf

Download (191kB)
[img] Text
Bab III.pdf

Download (337kB)
[img] Text
Bab IV.pdf

Download (300kB)
[img] Text
Bab V.pdf

Download (327kB)

Abstract

Dewasa ini realitas di dunia sering kali menunjukkan bahwa kemerosotan moral menjadi suatu problem yang terus melanda hidup manusia.Tindakan-tindakan yang melawan perikemanusiaan terus-menerus menggerogoti hidup dan manusia seakan tidak dapat mengelak dari padanya. Kasus-kasus ketidakadilan dan ketidakadaban,misalnya,pencurian dan perampokkan, pemerkosaan, persekusi, pembunuhan, aborsi, bunuh diri, korupsi,kemiskinan, tawuran, kekerasaan akibat menguatnya paham radikalisme dan fanatisme agama, dan lain sebagainya menjadi beberapa contoh kasus dari sekian banyak kasus ketidakadilan dan ketidakadaban lainnya yang menunjukkan adanya degradasi nilai dalam setiap pribadi dalam hidup manusia. Realitas yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa dunia dewasa ini sedang mengalami suatu krisis besar dan manusialah yang menjadi subjek atas krisis-krisis tersebut. Ketaksanggupan berpikir secara kritis dan tuntas menjadi awal dari munculnya krisis-krisis tersebut. Manusialah yang menjadi sentral, dasar dan alasan mengapa krisis itu muncul. Lantas apa solusi yang ditawarkan untuk mampu meredam krisis tersebut? Jauh-jauh hari sebelum lahir berbagai ilmu pengetahuan seperti saat ini, Ilmu Filsafat sebagai ibu dari semua ilmu, berperan menjawabi semua problem yang ada di dalam diri manusia, dunia di luar dirinya, dan realitas yang lebih besar dari dirinya. Jawaban-jawaban itu lahir dari pemikiran-pemikiran para filsuf. Filsafat memang selalu lahir dari suatu krisis. Entah itu krisis akan diri manusia atau krisis akan dunia di sekitarnya. Krisis berarti penentuan, artinya bahwa dengan adanya krisis seseorang dituntut untuk segera berindak agar dapat keluar dari krisis tersebut atau berdiam dan membiarakan diri hanyut dalam krisis tersebut. Jadi bila terjadi krisis, orang biasanya meninjau kembali pokok dangkal yang lama dan mencoba apakah ia dapat tahan uji. Dengan demikian, Filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain. Filsafat adalah perjalanan untuk menemukan berbagai persoalan. Hal ini berarti manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau kembali dirinya. Mungkin tidak secara tegas ia meninjau dirinya, misalnya ia mempersoalkan Tuhan dan dunia di sekelilingnya dengan aneka macam persoalan, tetapi dalam hal seperti itu ia sesungguhnya masih dan sedang mempersoalkan dirinya juga mempertanyakan eksistensinya. Pada zaman Yunani Kuno, Plato sudah melihat krisis dalam dirinya. Krisis itu lahir dalam bentuk pertanyaan akan eksitensi dirinya sebagai manusia. Konsekuensi dari pertanyaannya itu ialah lahirnya pemikiran tentang manusia. Ia (Plato) memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari jiwa dan badan. Ia melihat bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa. Baginya makna ultim keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar dan yang indah. Namun, manusia tidak setia pada peruntukan ini, ia tidak mewujudkan makna kehidupan sebagaimana kewajibannya, ia bersalah karena menyimpang dari kiblat idea-idea itu. Makanya ia langsung terhukum dengan dipenjarakannya jiwa ke dalam tubuh. Manusia menjadi bagaikan malaikatmalaikat yang terjatuh dan sebagai hukuman dijelmakan dalam tubuh. Lalu Aristoteles misalnya, menyebut manusia sebagai hewan rasional (animale rationale). Ia mengajarkan bahwa salah satu bentuk pengenalan manusia ialah pengenalan rasional. Manusia juga pada perkembangannya disebut sebagai homo sapiens, manusia arif yang mengungguli makhluk lain. Manusia disebut juga homo ludens, makhluk yang senang bermain, yang mana permainan dalam sejarahnya juga digunakan oleh manusia untuk dewadewa dan bahkan ada kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. Setelah Plato, Aristoteles dan beberapa filsuf lain zaman Yunani Kuno, ada begitu banyak pemikiran tentang manusia yang mulai lahir dan berkembang di Eropa. Ada seorang Rousseau yang melihat krisis di luar realitas manusia. Baginya karena pembaharuan Ilmu Pengetahuan dan kesenian yang pesat, manusia lari dari kodratnya yang mulanya baik ke arah yang buruk. Baginya, kemajuan ilmu pengetahuan dan kesenian hanya menghasilkan ketidaksungguhan, kemunafikkan, kecongkakan, dan kesombongan bagi umat manusia. Semuanya itu telah memburukkan kodrat manusia yang pada mulanya baik dan merayu manusia untuk melakukan segala macam kebejatan. Perkembangan pemikiran akan eksistensi manusia dan realitas di luar dirinya tidak hanya berkembang di dunia Barat saja, namun menyebar ke belahan dunia lainnya. Dan intinya bahwa perkembangan pemikiran tersebut semata-mata ialah untuk menjawabi segala persoalan yang ada di dunia. Di Indonesia hadir seorang pemikir di bidang Filsafat, yaitu Nicolaus Driyarkara yang juga ikut menorehkan refleksi filosofisnya secara kritis tentang manusia untuk menjawabi segala macam krisis yang ada. Titik tolak pemikiran Driyarkara tentang manusia adalah rakyat Indonesia. Ia tak menampik bahwa pertanyaan tentang manusia sendiri adalah pertanyaan sentral yang harus dijawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia ini: sebab apakah diri manusia harus diperjuangkan? Sebab apakah diri manusia dapat terancam? Sebab apakah manusia dapat diombang-ambingkan? Dan sebab apakah manusia dapat tenggelam akan tetapi di samping itu masih dapat berjuang untuk muncul lagi? Kesemuaan pertanyaan tersebut memberi alasan kepadanya untuk merenung tentang manusia. Bila ditilik kembali diawal tulisan, sebenarnya Driyarkara sudah menampilkan suatu pertanyaan tersirat akan krisis moral yang sering terjadi saat ini: sebab apakah manusia mencuri dan merampok? Sebab apakah manusia melakukan aborsi? Sebab apakah manusia membunuh? Sebab apakah manusia korupsi? Atau singkatnya, sebab apakah manusia mudah melakukan pelanggagaran-pelanggaran moral yang berkaitan dengan keadilan dan keadaban di negeri ini? Driyarkara melihat manusia sebagai suatu kesatuan yang utuh antara dua prinsip yakni jiwa dan badan (roh dan materi) dengan segala konsekuensi yang mengikuti pandangannya tersebut. Yang menarik dari pemaparannya, Driyarkara jelas memperhatikan kedua prinsip manusia baik badan maupun roh tanpa mengucilkan konsekuensi yang mungkin muncul berkenaan keduanya. Manusia sebagai badannya dilihatnya sebagai yang memungkinkan manusia untuk ada di dalam dunia, berhubungan dengan alam dan sesama. Namun, karena ia adalah bagian dari dunia materi maka konsekuensinya, manusia terikat dengan hukum-hukum materi termasuk dengan dorongan-dorongan alamiah badan. Dengan roh manusia dapat melampaui hukum serta dorongan alamiahnya sebagai makhluk materi. Roh memungkinkan manusia berdaulat atas dirinya sendiri dan mengusahakan kesempurnaan pribadinya. Usaha untuk mencapai kesempurnaan sebagai pribadi, didapat manusia dengan melakukan apa yang baik, yang susila. Dan usaha ini hanya dapat dimengerti dan dilaksanakan dengan baik jika keinginan manusia benar-benar tunduk pada putusan roh. Dalam upaya untuk memerdekakan manusia, Driyarkara secara gamblang menjelaskan bahwa, sebagai pribadi yang berkuasa atas dirinya sendiri, dengan segala kemerdekaan yang dimilikinya, setiap tindakan manusia harus benar-benar dikendalikan oleh keinginan roh, agar segala tindakan yang dibuat dengan merdeka tidak menjerumuskan manusia ke dalam jurang perbudakan yang justru merendahkan dirinya sebagai pribadi yang merdeka, melainkan memerdekakan dirinya secara utuh dan membawanya untuk terus mengejar kesempurnaan. Konsekuensi dari pribadi yang benar-benar merdeka sebagai pribadi merdeka juga akan nampak dalam relasinya dengan orang lain (sosialitas). Dalam relasi ada-bersama dengan yang lain, manusia tidak akan pernah memandang orang yang dijumpainya sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang merdeka sama seperti dirinya, sehingga yang ada ialah, ia akan berjuang juga untuk memerdekaan dirinya dan orang yang ada di dalam lingkungan hidupnya. Sehingga tindakan yang dibuatnya dalam relasi ada-bersama juga selalu mengutamakan nilai-nilai kemanusian. Pada titik inilah, sebagai pribadi yang merdeka, manusia akan tampil sebagai kawan bagi sesamanya (homo homini socius).

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BH Aesthetics
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
J Political Science > JQ Political institutions Asia
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 07 Feb 2020 04:56
Last Modified: 07 Feb 2020 04:56
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1764

Actions (login required)

View Item View Item