Politik Persahabatan Derrida Dan Relevansinya Bagi Perpolitikan Indonesia Di Era Orde Reformasi

DELU, Wilibaldus Sae (2019) Politik Persahabatan Derrida Dan Relevansinya Bagi Perpolitikan Indonesia Di Era Orde Reformasi. Diploma thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (287kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (186kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (208kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (215kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (245kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (140kB)

Abstract

Diskursus mengenai politik erat kaitannya dengan manusia sebab seturut kodratnya manusia adalah makhluk politik. Dalam konteks filsafat, diskursus politik ini ditelaah secara spesifik dalam filsafat politik. Sebagai sebuah disiplin filsafat, filsafat politik selalu berorientasi pada tatanan normatif kontrafaktis yang seringkali berseberangan dengan realitas politik. Untuk mengembalikan fitrah politik yang seringkali berciri violatif dalam prakteknya, refleksi tentang konsep politik menjadi penting untuk mengembalikan kesadaran kita kepada pemahaman politik yang sesungguhnya. Refleksi mengenai politik ini mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Di zaman Yunani Klasik misalnya, Aristoteles mengembangkan teori politiknya dari sudut pandang eudaimonistis. Era abad pertengahan dengan pertautan kuat agama atas filsafat, otonomitas Allah dalam dunia politik pun mendapat aksentuasi kuat. Di zaman modern, Thomas Hobbes (1588-1679) dalam karyanya Leviathan menempatkan manusia sebagai unsur material dasar pembentuk Negara. Dan di era postmodern ini,diskursus filsafat politik mendapat kontribusi kuat dari sejumlah filsuf. Salah satunya adalah Jacques Derrida. Derrida melalui proyek dekonstruksinya, meretas persoalan politik dengan melakukan pembacaan dekonstruktif atas pandangan politik dari Carl Schmitt dan konsep persahabatan Aristoteles. Konstruksi politik Carl Schmitt sebagaimana tertuang dalam bukunya Der Begriff des Politischen berlandaskan pada pemisahan tegas antara teman dan musuh politik.Logika politik ini jelas menempatkan hubungan ontologi teman – musuh sebagai unsur substansial politik. Dengannya, politik perlu dan cukup ditandai dengan diferensiasi tegas teman – musuh.Tidak ada politik tanpa kehadiran sosok musuh. Kehilangan sosok musuh menyebabkan musnahnya politik. Aristoteles dalam Nichomacean Ethics, memetakan persahabatan dalam tiga jenis berdasarkan motivasi yang mendasarinya. Pertama, persahabatan yang lebih tinggi didasarkan pada kebajikan. Kedua, persahabatan didasarkan pada utilitas dan kegunaan. Ketiga, dan pada level yang lebih rendah, persahabatan didasarkan pada kesenangan. Berbeda dari persahabatan jenis pertama dan ketiga, menurut Aristoteles, persahabatan yang didasarkan pada utilitas memiliki kaitan erat dengan politik. Jenis persahabatan ini masuk dalam kategori persahabatan politik. Bertolak dari kerangka pemikiran Aristoteles mengenai persahabatan ini, Derrida mengkonfrontasikannya dengan persoalan politik kontemporer yang mana telah mendepak persahabatan ke ruang agama dan moral. Marginalisasi persahabatan dalam politik dinilai Derrida tidak bisa menjamin masa depan politik. Bagi Derrida, sebagaimana diuraikan Aristoteles, persahabatan justru menjadi bagian penting dalam bangunan politik. Politik sebagai bentuk kerja sama dalam menata peradaban komunitas yang terarah pada cita-cita kebaikan bersama mutlak memerlukan persahabatan. Dalam terang semangat dekonstruksi, Derridab mendekonstruksikan motivasi persahabatan dalam konteks politik. Berbeda dari Aristoteles yang melihat persahabatan bermotifkan kegunaan sebagai basis dalam politik, Derrida justru menempatkan motivasi keutamaan dalam persahabatan sebagai basis politik. Hal ini bukan tanpa alasan sebab bangunan politik yang didasarkan pada motivasi kegunaan cenderung mereduksi makna politik yang kemudian menjurus pada ketimpangan politik dalam praksisnya. Dalam konteks Indonesia, setelah 20 tahun reformasi politik berjalan, tak jarang kita menemukan ciri violatif politik dalam praksis berpolitik. Reformasi seakan tidak cukup signifikan memperbaiki cacat demokrasi di Indonesia. Politik di Negara ini mengalami reduksifasi (pendangkalan makna) hal mana mencuat dalam aneka permainan politik yang sengaja dipertontonkan ke publik. Politisasi isu SARA misalnya, merupakan wujud konkret dari pemahaman politik yang berbasiskan oposisi teman versus musuh politik. Dengan demikian, ikhtiar mewujudkan peradaban politik yang berciri humanis serasa jauh panggang dari api. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mereposisi pemahaman dan konstruksi politik dengan menimba inspirasi intelektual dari Derrida. Dimana politik sudah semestinya berlandaskan persahabatan. Dalam konteks ini pula, penulis akan mengulas relasi politik persahabatan Derrida dalam kehidupan aktual politik Indonesia di era Orde Reformasi. Berdasarkan uraian di atas, sebagai bentuk keterlibatan akademis, penulis berpretensi menelisik lebih jauh persoalan politik dalam terang refleksi filosofis.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
J Political Science > JQ Political institutions Asia
J Political Science > JV Colonies and colonization. Emigration and immigration. International migration
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 10 Feb 2020 02:10
Last Modified: 10 Feb 2020 02:10
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1772

Actions (login required)

View Item View Item