Permainan Bahasa Menurut Ludwig Wittgenstein: Analisis dan Kritik Atas Bahasa Filsafat

NAHAK, Engelbertus (2019) Permainan Bahasa Menurut Ludwig Wittgenstein: Analisis dan Kritik Atas Bahasa Filsafat. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
Abstraksi.pdf

Download (280kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (308kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (407kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (308kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (459kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (439kB)

Abstract

Perkembangan filsafat analitis dilatarbelakangi oleh adanya kekacauan bahasa filsafat. Banyak teori serta konsep filsafat dipaparkan dengan bahasa yang membingungkan, bahkan semakin jauh dari bahasa sehari-hari. Dalam mengatasi kekacauan bahasa filsafat tersebut, tampillah tokoh yang pertama kali meletakkan dasar-dasar filsafat analitis, yaitu G. E. Moore, yang mengembangkan tradisi analitika bahasa sebagai reaksi terhadap aliran idealisme yang berkembang di Inggris saat itu, melalui karyanya yang berjudul Principia Ethica. Adalah Ludwig Wittgenstein salah satu tokoh filsafat analitis yang memiliki konsep yang lengkap dan inovatif, dengan dua buah karya besarnya Tractatus Logico-Philosophicus dan Philosophical Investigations. Melalui karyanya yang pertama, Wittgenstein mengajukan konsep pemikiran tentang bahasa ideal yang merupakan bahasa yang memenuhi formulasi logis, di mana dijelaskan sebagai suatu gambaran realitas dunia empiris. Pemikiran ini merupakan suatu karya filsafat yang singkat dan padat, serta disajikan dalam suatu deskripsi yang unik, yaitu dengan sistem notasi angka dengan menunjukkan prioritas logis dari proposisi-proposisinya. Inti filsafat Tractatus adalah picture theory yang menguraikan logika bahasa. Menurut Wittgenstein hakikat bahasa merupakan gambaran logis dari realitas dunia. Hakikat dunia merupakan keseluruhan fakta-fakta dan bukannya benda-benda. Dalam hal ini dunia terbagi menjadi fakta-fakta. Adapun fakta merupakan states of affairs, yaitu suatu keberadaan peristiwa.Totalitas dari proposisi adalah bahasa yang menggambarkan realitas dunia. Gambaran tersebut merupakan gambaran logis dan bentuk pictorial dari realitas yang diwakilinya. Kesesuaian antara proposisi dengan realitas tersebut tidak hanya menyangkut hubungan pictorial saja, tetapi juga menyangkut situasinya. Pemikiran Wittgenstein periode pertama ini dengan kuat mempengaruhi paham positivisme logis, suatu kelompok ilmuwan positif yang berpusat di Wina. Teori gambar dan logika bahasa juga digunakan sebagai dasar prinsip verifikasi dalam ilmu pengetahuan yang sampai saat ini masih besar pengaruhnya di seluruh dunia. Berdasarkan teori gambar tersebut, Wittgenstein berkeyakinan bahwa ungkapan metafisis itu tidak mengungkapkan realitas fakta sehingga tidak bermakna. Dalam hal ini ungkapan-ungkapan tentang Tuhan, estetika, dan etika, merupakan sesuatu yang bersifat "mistis". Wittgenstein dalam karyanya yang kedua, mengajukan konsep tata permainan bahasa (language games) yang digunakan dalam berbagai macam konteks kehidupan manusia. Pemikiran Wittgenstein periode kedua tersebut tertuang dalam karya Philosophical Investigations, di mana konsep tersebut tidak mendasarkan pada logika bahasa, tetapi pada bahasa biasa yang dipakai manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jika pada periode pertama Wittgenstein mendasarkan pemikirannya pada satu bahasa ideal yang memenuhi syarat logika, pemikiran periode kedua justru mendasarkan pada bahasa biasa yang bersifat beraneka ragam. Wittgenstein melihat hakikat bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai macam konteks kehidupan manusia. Oleh karena itu, terdapat banyak permainan bahasa yang sifatnya dinamis, tidak terbatas sesuai dengan konteks kehidupan manusia. Setiap konteks kehidupan manusia menggunakan satu bahasa tertentu, dengan menggunakan aturan penggunaan yang khas dan tidak sama dengan konteks penggunaan lainnya. Berdasarkan macamnya, terdapat banyak penggunaan bahasa yang masing-masing memiliki aturan sendiri-sendiri dan hal itu merupakan suatu nilai. Misalnya, penggunaan bahasa dalam memberikan perintah dan mematuhinya, melaporkan suatu kejadian, berspekulasi mengenai suatu peristiwa, menyusun cerita dan membahasnya, bermain akting, membuat lelucon, berterima kasih, berdoa, menguji suatu hipotesis dan penggunaan bahasa lainnya. Wittgenstein berkesimpulan bahwa makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam kalimat, makna sebuah kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa, dan makna bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai konteks kehidupan manusia. Dalam hubungan ini konteks penggunaan logika bahasa sebagaimana terdapat dalam Tractatus merupakan satu macam permainan bahasa tersendiri. Dalam pemikirannya yang kedua ini, Wittgenstein tidak lagi mendasarkan pada bahasa ideal dan logis, tetapi mengembangkan pemikiran tentang pluralitas bahasa dalam kehidupan manusia. Pemikiran filsafat Wittgenstein periode kedua ini berpengaruh terhadap munculnya aliran filsafat bahasa biasa (Ordinary Language Philosophy) dan postmodernisme. Aliran filsafat bahasa biasa ini berkembang di Eropa terutama di Inggris dan Amerika, serta memiliki pemikiran filsafat yang beraneka ragam. Berdasarkan sejarah perkembangan linguistik pragmatik, pemikiran filsafat bahasa biasa inilah yang merupakan inspirasi dikembangkannya pragmatik. Sejak perkembangan ilmu bahasa modern, hakikat bahasa lebih menekankan aspek struktur yang terlepas dari konteks kehidupan manusia sebagai penutur bahasa. Ilmu bahasa dalam dua dasawarsa yang silam tidak memberikan perhatian terhadap aspek pragmatis bahasa dalam kehidupan manusia, karena melihat bahasa dari struktur logis. Oleh karena itu, dewasa ini berkembanglah kajian pragmatik bahasa, yaitu kajian bahasa yang menekankan pada objek material bahasa yang digunakan dalam kehidupan manusia. Berdasarkan perkembangannya, kajian pragmatik diilhami oleh pemikiran filsafat bahasa, terutama para tokoh filsafat analitis yang mengembangkan pemikiran Wittgentsein. Berdasarkan permasalahan tersebut, konsep filsafat analitis menurut Wittgenstein penting untuk diteliti, kemudian secara heuristis dikembangkan relevansinya bagi pengembangan filsafat bahasa dan dasar filosofis pragmatik. Selain itu, filsafat analitis Wittgenstein tersebut relevan bagi pengembangan bahasa filsafat maupun filsafat bahasa. Secara ontologis dalam hakikat bahasa terkandung nilai sehingga relevan jika dikembangkan 'teologi gramatikal', yaitu salah satu bidang kajian bahasa pada penggunaannya dalam kehidupan religius dan bidang "aksiologi bahasa", yang mendeskripsikan nilai bahasa dalam berbagai macam konteks kehidupan manusia termasuk di dalamnya ialah bentuk bahasa filsafat.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BD Speculative Philosophy
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
P Language and Literature > PC Romance languages
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Kom Sela Mikado
Date Deposited: 10 Feb 2020 03:57
Last Modified: 10 Feb 2020 03:57
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/1782

Actions (login required)

View Item View Item