Makna Upacara Kematian Ritus Marapu Di Kampung Bukaregha Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya

BILI, Karel (2018) Makna Upacara Kematian Ritus Marapu Di Kampung Bukaregha Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (447kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (251kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (527kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (260kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (443kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (286kB)

Abstract

Manusia adalah makluk yang beragama. Apapun nama agamanya jika konsep ajarannya dalam melihat realitas selalu dihubungkan dengan yang transenden maka itu dipandang baik dan bernilai. Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki adat-istiadatnya masing-masing sesuai tempat dan keberadaanya. Adat-istiadat merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang menggambarkan di dunia. Adat-istiadat itu adalah sebuah proses budaya yang syarat akan nilai-nilai luhur dan menjadi bagian dari identitas dan jati diri. Setiap adat-istiadat yang mempunyai wujut dan praktik budaya mengandung makna dan nilai yang sangat urgen bagi penghayatan hidup manusia. Di Sumba pada umumnya dan khususnya di Kampung Bukaregha sangat dikenal dengan adanya ritus upacara kematian dan pemakaman bagi orang yang meningal. Prosesi kematian dan pemakaman adalah suatu kegiatan yang mengandung makna. Sebagai masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai kehidupan seseorang baik ketika masi hidup ataupun ketika mati, menghantar mereka pada suatu ekspresi kesadaran akan eksitensi mereka yang terkait pada Tuhan sebagai pencipta dan penyenggara kehidupan. Sebagai masyarakat yang menganut sistem kepercayaan Marapu, mereka percaya dan tahu, bahwa kematian bukanlah akhir dari suatu kehidupan manusia. Pemahaman ini dilandasi oleh adanya pengakuan bahwa Allah berdaulat dalam semua masalah kehidupan dan kematian, karena Dia telah menunjukkan karya- karya keselamatan untuk menaklukkan maut dan kehidupan. Kesadaran manusia yang dilihat sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang indah dan mulia, menghantar setiap penganut aliran kepercayaan Marapu menjalankan segala ritus yang terkandung di dalamnya secara teratur dan benar. Ekspresi relegiositas dari setiap aliran kepercayaan Marapu semakin memperjelas bahwa agama Marapu memiliki konsep mendalam tentang hidup dalam hubungannya dengan Tuhan. Sejalan dengan pandangan ini, tepatlah apa yang dikatakan oleh Bede Griffihs yang mengatakan bahwa setiap agama memiliki tujuan yang sama yaitu mengarahkan setiap manusia pada keadaan yang absolut dan transenden, realitas tunggal, kebenaran abadi yang tidak bisa diungkapkan dan tidak bisa dipahami. Dalam situasi dan keadaan apapun manusia, secara tetap ditarik kepada kebenaran yang transenden. Dari serangkayan ritus yang dijalankan dalam upacara kematian dengan jelas ditampilkan akan adanya sebuah kekuatan yang melampaui segalanya. Dengan demikian menhantar setiap penganutnya untuk harus menjalankan segala bentuk ritus itu dengan sebaik- baiknya. Dengan adanya cara pandang yang demikian maka upacara kematian di dlam ritus Marapu berkaitan erat dengan predikat yang meletak pada manusia bahwa pada prinsipnya manusia adalah subjek beragama. Dibalik seluruh rangkayan upacara kematian mengandung makna yang meliputi, makna religius, makna moral dan makna sosial. Sebagai manusia yang memiliki pemahaman akan adanya Wujud Tertinggi sebagai penguasa yang menjadi ibu dari segala ibu dan bapak dari segala bapak. Masyarakat Kampung Bukaregha sangat menjunjung tinggi nilai religiusitas dari hidup dan matinya seseorang. Sebagai mahkluk religius ekspresi keimanan itu selalu ditampilkan lewat serangkayan doa-doa yang ditunjukan kepada Wujut Tertinggi melalui perantaraan roh nenek moyang dalam seluruh rangkayan ritus upacara kematian bagi keselamatan jiwa dari si mati. Rangkayan doa yang dipanjatkan tidak hanya sebatas permohonan agar jiwa dari si mati selamat dan dapat mendiami rumah keabadia. Sebagai mahkluk yang bermoral, manusia bertindak secara rasional, berlaku etis dan saling memberi makna, kerena manusia juga adalah mahkluk etis. Sebagai mahkluk etis, manusia memiliki kesadaran etis, yakni kesadaran tentang dirinya, bahwa ia terikat oleh keharusan untuk selalu melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Kesadaran etis itu ditandai dengan pola perilaku yang dijalankan oleh masyarakat penganut aliran kepercayaan Marapu dalam keseharian hidupnya. Kesadaran etis itu berlanjut dan terus terjaga bahkan sampai sesudah manusia mengalami kematian dan pada akhirnya manusia dikebumikan. Jika masah hidupnya manusia itu dihormati, maka saat manusia itu matipun ia harus dihormati, dengan cara merawat jenazahnya, menjaga jenazahnya, meminyaki, memakaikan pakayan yang indah, dan menguburkannya pada tempat yang layak. Kesadaran yang dibangun ini tidak terlepas pula dari sebuah keyakinan bahwa dibalik kehidupan yang fana ini ada kehidupan yang bersifat abadi. Oleh karena itu upacara kematian adalah ritual yang merupakan keharusan untuk dijalani bagi manusia yang masih hidup. Makna sosial yang terkandung dalam ritus upacara kematian pada masyarakat Kampung Bukaregha berkaitan erat dengan hubungan manusia dengan sesamanya. Salah satu cirinya adalah saat upacara kematian berlangsung di mana keluarga maupun orang lain ada bersama dalam menyukseskan jalannya seluruh rangkayan upacara kematian. Adanya sikap solider yang ditampakkan lewat pebawaan berupa ingi (kain) dan segalah keperlual lain dalam upacara kematian, berupa ayam,anjing,babi,kerbau,kuda,sapi, sebagai hewan korban yang dibawah oleh puhak keluarga maupun oleh sahabat kenalan atau pelayat. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah mahkluk yang memandang dirinya selalu hidup dalam kebersamaan dengan sesama dalam kelompok dan dalam suku serta dalam masyarakat.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 11 Jun 2020 01:32
Last Modified: 11 Jun 2020 01:32
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/2672

Actions (login required)

View Item View Item