The “Or” Dan Pilihan: Unsur Konstitutif Eksistensialisme Søren Aabye Kierkegaard

CARVALHO, Martinho De (2020) The “Or” Dan Pilihan: Unsur Konstitutif Eksistensialisme Søren Aabye Kierkegaard. Undergraduate thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (667kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (523kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (403kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (420kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (605kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (390kB)

Abstract

Siapakah manusia itu? Sebuah pertanyaan yang paling mendasar dan paling utama dalam sejarah manusia. Bagi manusia, mengetahui siapa dirinya, dari mana asal usulnya, apa tujuan hidupnya, bagaimana ia menghayati hidup secara konsisten, merupakan masalah yang berbeda-beda. Akan tetapi semua pertanyaan ini merupakan satu kesatuan, yakni berkaitan dengan pemaknaan hidup serta nilainilai keberadaannya. Pertanyaan siapakah manusia itu muncul dari zaman ke zaman yaitu mulai dari zaman klasik hingga saat ini. Kendati demikian, pertanyaan Siapakah manusia itu sudah dimunculkan dan berusaha pula dijawab oleh beberapa pemikir dengan berbagai pendekatan, namun pertanyaan ini tetap relevan diangkat hingga zaman sekarang. Munculnya pertanyaan itu terus menerus menandakan bahwa manusia adalah sebuah persoalan. Semakin dia mengalami pengalamannya, semakin ia menyadari dirinya sebagai problem. Karena itu beberapa filsuf eksistensialis tidak salah ketika mereka menyatakan bahwa manusia sebagai sebuah persoalan. Gabriel Marcel (1889-1973) dan Martin Buber (1878-1965), sama-sama mengakui bahwa manusia adalah sebuah persoalan yang tidak akan pernah berujung. Pengakuan kedua filsuf eksistensialis itu menunjukkan bahwa essensi manusia selalu melahirkan hal-hal yang baru untuk terus menerus dipertanyakan. Oleh karena itu, persoalan-persoalan kemanusiaan tidak bisa didiamkan, selama ada pikiran yang bergerak untuk mempertanyakan dan mengkajinya. Dalam kenyataannya, banyak sekali manusia yang lupa dan lalai akan eksistensinya yang juga mempunyai dimensi roh Tuhan dalam dirinya. Menurut Sartre misalnya, ia mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Sartre juga berpandangan, bahwa jika manusia ingin menggapai kemajuan, maka eksistensi Tuhan harus dibuang dalam bayang-bayang pikiran manusia. Pemikir Barat selalu beranggapan bahwa dimensi spiritual atau roh Tuhan itu tidak ada. Karena menurut mereka,persoalan roh tidak bisa diteliti sebagaimana objek penelitian yang konkrit. Hal ini menunjukkan bahwa Sartre lebih cenderung mengikuti pola pikir kaum materialis. Berbeda dengan pemikiran Kierkegaard yang mencoba menawarkan sebuah gagasan menarik dalam dunia kristiani,dan ia berusaha menentang rekonstruksi-rekonstruksi rasional dan masuk akal atas konsep keyakinan religius. Menurut Kierkegaard, persoalan-persoalan praktis sehari-hari itulah yang konkrit dan menjadi persoalan eksistensial manusia. Bagi Kierkegaard, yang konkrit itulah yang menjadi titik tolak permenungan baru tentang makna keberadaan manusia. Di dalam tulisannya yang berjudul Either/Or, Kierkegaard membaginya ke dalam dua bagian penting. Bagian pertamaEither menggambarkan fase keberadaan “estetika” dan “Or” bagian kedua mewakili tahap “etis”. Oleh karena itu, kata Either/Or ini digunakan untuk mjuk pada satu pilihan di antara dua kemungkinan yakni seseorang heruarus memilih pilihan yang pertama ataukah yang kedua (atau itu, atau ini). Dengan kata lain, Ether/Or ini menggambarkan dua pandangan hidup yakni estetis dan Etis. Menurut Kierkegaard bereksistensi bukan berarti hidup dalam pola-pola abstrak dan mekanis namun harus terus menerus menciptakan pilihan-pilihan secara personal dan subjektif, karena menurutnya yang ia butuhkan bukanlah kumpulan pengetahuan sistematik mengenai kebenaran objektif, melainkan bagaimana hidup, membuat pilihan dan mengambil keputusan. Oleh sebab itu, prinsip dasar dari pilihan adalah bukan pembenaran, akan tetapi komitmen,ketepatan subyek dan sikap personal. Seseorang harus memilih, dan melalui pilihannya, ia memiliki kebebasan, dan dengan kebebasan itu, ia hidup dengan menggunakan kategori yang baik dan yang jahat. Dengan pilihan, ia menciptakan eksistensi dirinya yang sebenarnya. Eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” yang statis, melainkan suatu “menjadi” yang di dalamnya terkandung suatu perpindahan yaitu dari “kemungkinan” ke “kenyataan.” Oleh karena itu, Kierkegaard menawarkan tiga tahapan agar manusia bisa menjadi manusia yang otentik. Tiga tahapan itu adalah, tahap estetis, tahap etis dan tahap religius. Pertama; Tahap estetis ini dapat digambarkan oleh Kierkegaard sebagai tahapan manusia yang dalam hidupnya selalu berusaha menimbang dan menghayati kehidupan tanpa merujuk pada yang baik dan yang jahat. Hal ini berarti bahwa ketika seseorang bertindak, ia tidak memikirkan apakah tindakan itu baik atau buruk dan kemudian menilai hal itu boleh atau tidak boleh dilakukan. Kedua; Tahap etis yang digambarkan oleh Kierkegaard ini adalah tahap yang berhubungan dengan norma dan batin. Dalam arti bahwa individu dapat menguasai dan mengenali dirinya, ia menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan patokan-patokan moral universal.Ketiga; Tahap religius adalah tahapan yang paling tinggi yang membicarakan hal-hal yang paling dalam yang ada dalam diri manusia. Dia menuju kepada keyakinan yang absolut yakni Tuhan. Semua yang berhubungan dengan Tuhan tidak dapat ditembus oleh akal tetapi harus menggunakan iman religius. Bertitik tolak dari ranah eksistensi manusia, apa yang digagas oleh Kierkegaard masih sangat relevan untuk jaman sekarang terutama bagaimana manusia secara umum sebagai individu dengan bebas menentukan pilihannya dalam mengambil keputusan. Dalam mengambil keputusan, manusia sebagai individu tidak pernah bergantung kepada orang lain. Orang lain tidak berhak atas keputusan setiap individu untuk dirinya sendiri, namun individu tidak bisa mengabaikan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Bagi Kierkegaard, subyektivitas manusia terkandung dalam keberanian untuk bergumul dengan pilihan-pilihan hidup, maupun ketika pilihan itu harus dibuat tampa informasi yang cukup sehingga menimbulkan penderitaan dan siksaan. Dengan demikian Kierkegaard merumuskan cara berada manusia dengan kalimat „ I choose, therefore, I exist’. Orang yang sungguh mengada tidak akan lari dari pilhan-pilihan yang harus dibuatnya dan dari keputusan-keputusan yang harus diambilnya.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BD Speculative Philosophy
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Kom Sela Mikado
Date Deposited: 16 Sep 2021 04:13
Last Modified: 16 Sep 2021 04:13
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/4016

Actions (login required)

View Item View Item