Pandangan Tentang Kematian Dalam Ritual Ketilabang Masyarakat Suku Kepo Di Desa Mbengan Kabupaten Manggarai Timur

LANGGING, Petrus De Verona (2019) Pandangan Tentang Kematian Dalam Ritual Ketilabang Masyarakat Suku Kepo Di Desa Mbengan Kabupaten Manggarai Timur. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (239kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (189kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (283kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (254kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (246kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (311kB)

Abstract

Menurut Edwar B. Taylor seperti dikutip H. Daeng, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang mengandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kebiasaan yang dilaksanakan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Semua tata laku yang tampak dalam budaya adalah sarana untuk menyempurnakan diri seutuhnya. Oleh karena itu, untuk memahami dan mencintai budaya bukan merupakan pilihan alternatif melainkan suatu keharusan bagi kita manusia. Dengan memahami dan mencintai budaya, berarti kita memahami dan mencintai pribadi kita, mencintai hasil karya kita, mencintai karya-karya besar leluhur kita, singkatnya memahami dan mencintai keunikan kita sebagai mahluk berakal budi.Relasi antara manusia yang masih hidup dengan jiwa orang yang telah meninggal dalam praksis kebudayaan lokal hingga saat ini tetap dipertahankan. Logika sederhana menjelaskan kebenaran praksis kebudayaan lokal tersebut, yaitu tidak akan ada praktek relasi dan komunikasi dengan jiwa-jiwa yang telah meninggal kalau orang tidak percaya akan eksistensi jiwa manusia dan bahwa jiwa manusia itu hidup terus sesudah kematian badan. Manusia dalam mengalami kematian tentunya berbeda-beda. Secara umumberdasarkan kenyataan sehari-hari dapat dikatakan bahwa mati adalah berhentinya fungsi keseluruhan organ tubuh, hal ini dikarenakan kematian merupakan kenyataan natural dari mahluk yang bertubuh. Berdasarkan cara meninggalnya seseorang, dalam tradisi lokal masyarakat Suku Kepo di Desa Mbengan menganut dua jenis kematian, yaitu: kematian wajar dan kematian tidak wajar (labang atau mata ta’a).Masyarakat Suku Kepo di Desa Mbengan sangat menjunjung tinggi arti kehidupan. Di dalamnya sangat dituntut kesungguhan seseorang untuk hidup dengan mengacu pada norma-norma adat yang berlaku.Kematian tidak wajar atau labang, diyakini sebagai malapetaka yang diakibatkan oleh adanya pelanggaran norma adat oleh orang tersebut atau para leluhurnya. Kejahatan atau neraka yang diciptakan oleh seseorang atau dari leluhurnya kemudian diturunkan kepada keturunannya dan dipandang sebagai suatu kutukan. Kutukan ini diyakini bersifat komunal karena seseorang yang dianggapmelanggar adat-istiadat tidak serta-merta langsung menerima akibatnya secara personal.Hal ini sangat mengancam eksistensi kehidupan badan manusia yang bersifat sementara di muka bumi ini. Secara historis untuk membendung atau memutuskan mata rantai “malapetaka” yang bersifat turun-temurun tersebut, maka Masyarakat Suku Kepo di Desa Mbengan memiliki sistem kepercayaannya tersendiri berkaitan dengan kematian tidak wajar. Terhadap korban kematian tidak wajar akan diadakan sebuah ritual yang hingga saat ini disebut dengan ritual “ketilabang”. Ritual ketilabang merupakan proses pemutusan hubungan antara jiwa orang yang meninggal akibat kematian tidak wajar dengan orang yang masih hidup. Pemutusan ini dikonkretitasi dalam penghantaran jiwa korban kematian tidak wajar atau labang tersebut menuju persimpangan jalan atau tempat peristirahatan orang melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh. Hal ini dilakukan karena masyarakat lokal setempat meyakini bahwa jiwa beserta “sial” yang ada pada korban labang tersebut akan tetap bersama-sama dengan sanak-saudaranya jika ritual ketilabang tidak dilaksanakan. Ritual ketilabangsebagai wujud tanggung jawab manusia untuk menjaga eksistensi kehidupan badan yang bersifat sementara sebagai pemberian cuma-cuma dari Allah. Walaupun Masyarakat Suku Kepo di Desa Mbengan menganut Agama Katolik Roma secara 100%, akan tetapi praksis ritual ini tetap eksis dikalangan Masyarakat lokal. Kepercayaan lokal bukan merupakan sebuah kepercayaan yang gagal menjadi sebuah agama resmi dan besar, melainkan sebuah bagian integral dari sebuah agama besar yang universal

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Hendra Silvester
Date Deposited: 21 Oct 2019 01:41
Last Modified: 21 Oct 2019 01:41
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/455

Actions (login required)

View Item View Item