Pendampingan Kesadaran Kaum Muda Dalam Menggunakanmedia Komunikasi Sosial Menurut Dekrit Inter-Mirifica Art.10

DA COSTA, Francisco Antonio Mesquite (2019) Pendampingan Kesadaran Kaum Muda Dalam Menggunakanmedia Komunikasi Sosial Menurut Dekrit Inter-Mirifica Art.10. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI, Cov, KP, LP, DI dan Abs..pdf

Download (256kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (312kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (462kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (338kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (202kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (239kB)

Abstract

Perkembangan media komunikasi sosial, tidak dapat disangkal bahwa media komunikasi mempunyai peran yang urgen dalam kehidupan manusia khususnya dalam kalangan kaum muda. Media komunikasi sosial itu merupakan bagian dari perkembangan yang membantu kita meningkatkan kemanusiaan, akan tetapi bisa juga menciptakan bencana secara khusus bagi kaum muda sebagai pelaku utama dalam penggunaan media komunikasi sosial. Ada berbagai tawaran yang disajikan media komunikasi sosial, kaum muda akan ditarik ke dalam gaya hidup individualistik dan konsumeristik. Dalam terminologi Karl Marx, kecenderungan tersebut mudah menjebak orang muda dalam kebutuhan palsu yang mendewakan kesenangan semata. Media komunikasi sosial juga membentuk suatu hyper-realitas yakni realitas semu yang melampaui kenyataan yang ada. Hiper-realitas ini tampil seakan-akan sebagai realitas sesungguhnya padahal ia hanyalah realitas artifisial ciptaan media komunikasi sosial,(cth.hooax). Pemanfaatan waktu, hal ini dapat dilihat dari tingkat kecanduan orang muda terhadap media komunikasi sosial. Dengan mengurungkan sisi positif dari media, dapat ditemukan sejumlah implikasi negatif dari media komunikasi sosial. Pendewaan terhadap media komunikasi dapat menyempitkan peluang untuk menumbuhakan budaya transformatif dalam diri kaum muda.Kesadaran Gereja akan pengaruh media terumus secara resmi dalam beberapa dokumen Gereja, baik itu pra-Inter Mirifica, Inter Mirifica, dan post-Inter Mirifica.Pra-Inter Mirifica,ditandai dengan ensiklik Vigilanti Cura dan Miranda Prosus. Pengaruh kedua dokumen ini sampai pada Konsili Vatikan II yang menghadirkan dekrit Inter Mirifica sebagai upaya untuk menanggapi penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan pada zaman sekarang. Gereja percaya bahwa penemuan-penemuan teknologi sekarang berkat anugerah Allah yang digali oleh kecerdasan manusia (IM.Art.1), namun Gereja menyadari juga bahwa manusia dapat menyalahgunakan media itu melawan maksud Sang Pencipta Ilahi dan memutarbalikannya sehingga mengakibatkan kebinasaan (IM. Art.2). Post-Inter Mirifica, sebagai usaha tindak lanjut dari ensiklik-ensiklik sebelumnya, hadirnya Instruksi Pastoral Communio et Progressio.Instruksi pastoral ini seringkali disebut sebagai Magna Charta komunikasi Kristiani dan suatu dokumen dengan pendekatan paling positif dan konkret terhadap komunikasi dan Gereja.Dalam rangka memperingati 20 tahun lahirnya Communio et Progressio, komisi Kepausan untuk komunikasi sosial menerbitkan Aetatis Novae (22 Februari 1992), Dokumen ini dimaksudkan untuk merefleksikan implikasi pastoral dokumen-dokumen sebelumnya bila ditatapkan dengan realitas perkembangan teknologi komunikasi. Akhirnya sampai pada Ajakan Apostolik Pasca-Sinodial Christus Vivit.Paus Fransiskus membuka pra sinode di Roma pada hari senin, 19 Maret2018, Dalam dokumen ini juga membahas secara khusus tentang persoalan kaum muda.. Pesan Paus Benediktus XVI pada hari komunikasi sedunia ke-43 (24 Mei 2009) ditegaskan bahwa „‟Media Komuniksi merupakan anugerah bagi umat manusia‟‟. Namun tidak dapat dipungkiri,media komunikasi sosial juga sedang membawa pergeseran yang hakikih terhadap nilai-nilai kemanusiaan, perilaku-perilaku komunikasi, juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran ini secara istimewa juga dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi yang mengalami dunia digital sebagai rumah sendiri.Inter Mirifica art.10, berbicara khusus tentang kewajiban kaum muda dan orang tua. Kewajiban utama kaum muda yaitu berusaha memahami dengan sungguh-sungguh upaya-upaya media komunikasi sosial, agar mereka dapat mengandalikan diri dan menjaga ketertiban serta berkembang secara bertahap menuju kematangan penguasaan diri dan dunia sekitarnya. Sedangkan kewajiban orang tua adalah mendampingi pertumbuhan anak-anak mereka. Kehadiran orang tua diperlukan dalam proses pendampingan kaum muda yang saat ini hidup di era digital, agar tayangan-taayangan, terbitan-terbitan yang mereka lihat, dengar dan baca searah dengan iman, moral dan nilai-nilai kemanusiaan.Orang tua terikat pada kewajibannya untuk membantu menyadarkan anak-anak mereka bagaimana menilai dan menggunakan media secara bijak dengan membentuk hati nurani dan membangun sikap selektif. Ini juga yang dimaksudkan dengan kesadaran bermedia (Media Awareness). Melatih kesadaran bermedia bertujuan untuk belajar mengedalikan diri dan memahami isi media serta memutuskan manakah yang baik dan manakah yang buruk/jahat

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
H Social Sciences > HE Transportation and Communications
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Hendra Silvester
Date Deposited: 21 Oct 2019 02:36
Last Modified: 21 Oct 2019 02:36
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/457

Actions (login required)

View Item View Item