Politik Perspektif Hannah Arendt

NATANAEL DE’E, Josef Freinademetz (2019) Politik Perspektif Hannah Arendt. Diploma thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
Abstraksi.pdf

Download (469kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (222kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (551kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (245kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (566kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (506kB)

Abstract

Politik adalah tata kelola hidup bersama untuk mencapai bonum commune (kesejahteraan umum). Politik memiliki cakupan kedalaman pengalaman hidup manusia, sebab di dalamnya dikelola kebudayaan, pendidikan-kecerdasan, well-being (kesejahteraan), relasipersosal-komuniter, tatareligius, duniaruang-lingkup kehidupan, tata kelola sumberdaya alam dan manusia, komunikasi interpersonal, hukum-sistem peradilan, sejarah, peradaban manusiawi, sastra, retorika, aneka nilai tradisi kebersamaan, kegotong-royongan, solidaritas dan rupa-rupa kepentingan peristiwa hidup keseharian. Singkatnya, politik mencakup keseluruhan aktivitas hidup manuisia. Aristoteles sendiri mengatakan bahwa manusia bukan sajaens rationale,tetapimanusiajugaadalahpolitical animal (hewan politik). Ungkapan Aristoteles ini mau menegaskan bahwa politik merupakan salah satu ciri dasariah dari manusia, dan segala tindakan politik yang manusia lakukan betujuan untuk mencapai suatu kesejahteraan bersama (Bonum Commune). Dalam buku I dari Politica, Aristoteles mengatakan bahwa manusia menurut kodratnya merupakan zoon politikon: makhluk yang hidup dalam polis. Konsep ini merupakan konsep yang sungguh mulia, karena manusia adalah makhluk yang berpolitik. Artinya, berbeda dengan binatang, manusia memiliki peralatan alamiah untuk mengorganisir diri guna mencapai hidup yang adil. Itulah politik. Karena itu “ilmu” tentang politik disebut sebagai ilmu yang paling utama (the highest all sciences), karena politik merupakan urusan keadilan umum, melibatkan semua orang, dan untuk membahagiakan seluruh rakyat. Akhir-akhir ini lalu lintas perpolitikan di Negara kita mengalami pemerosotan makna. Makna politik menjadi reduksif. Reduksifasi merupakan sebuah wujud dari proses pendangkalan. Karena reduksifasi, politik yang bermakna mendalam sebagai “tatakelola hidup bersama” terasa babak belur oleh dominasi perkara-perkara rekaan dan atau rekayasa yang tidak bermutu. Misalnya,politik selalu berkonotasi korupsi akibat kerakusan para politisi yang mencuri uang negara. Reduksifasi di atas merupakan sebuah kenyataan konkret kenaifan. Naif karena reduksifasi adalah sebuah kesempitan cara berpikir. Memang dunia politik dekat dengan kenaifan, kata Nietzsche. Dalam bahasa Machiaveli politik malah dimasukkan ke dalam perkara di luar wilayah wajar etika. Politik ada dalam ranah kekuasaan. Siapa menang, berkuasa. Siapakalah, pecundang. Habis perkara. Politik kini tenggelam oleh berbagai peristiwa perebutan kekuasaan. Menurut Hannah Arendt, sebagaimana yang dikutipoleh F. Budi Hardiman dalam buku “Masa Trauma danTeror”, menegaskan bahwa penguasaan yang satu terhadap yang lain bukanlah politik, melainkan anti-politik. Menurutnya, politik tak dapat dipahami dalam kategori Herrschaft(dominasi),melainkan kategori Freiheit(kebebasan). Politik ist Freiheit.Hannah Arendt memandang manusia dalam tiga dimensi vita activa, yakni kerja (labor), karya (work) dan tindakan (action). Dari ketiganya yang mengekspresikan dan mengkonstitusikan dimensi politik manusia adalah tindakan. Politik adalah tindakan, dan karena itu politik, tidak bias tidak, memprasyarat kebebasan. Politik tanpa kebebasan bukanlah politik. Kebebasan adalah kondisi kemungkinan bagi politik. Menurutnya, manusia politik adalah manusia tindakan. Berbicara, bertindak dalam sebuah ruang publik yang pluralistik, di mana seluruh anggota berada pada sebuah tataran yang sama. Membahas teori tindakan Arendt berarti memasuki pusat pemikiran politiknya. Menurut Arendt, tindakan adalah representasi dari dunia politik yang terpusat dan sekaligus realisasi darivita active tertinggi. Dari ulasan singkat di tentang teori tindakan, konsep ruang public dan konsep kebebasan Hannah Arendt di atas, paling tidak dapat ditarik beberapa hal, yaitu; Pertama, elemen inti kehidupan sebagai manusia-manusia dan bukan Manusia adalah tindakan dan ucapan. Itu berarti bahwa dua cara berada yang fundamental bagi manusia dalam kebersamaannya dengan yang lain, yaitu ekspresi dan komunikasi. Hubungan ini saling melengkapi. Jadi antropologi filosofis Arendt adalah bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang bertindak dan bertutur, ekspresif dan komunikatif. Kedua, antropologi filosofis ini didasarkan pada asumsit ertentu yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang plural dan bebas. Pluralitas manusia terletak dalam kesamaannya yaitu bahwa mereka tidak sama. Sementara kebebasannya terimplikasi dari hakikatnya sebagai manusia yang bertindak, karena bertindak berarti memulai, mencipta, dan memulai berarti melakukan pilihan-pilihan; itu adalah kebebasan. Ketiga, antropologi filosofis ini kemudian ditarik Arendt kearah antropologi politik, yaitu bahwa manusia adalah makhluk politis sebagai hasil kontruksi tindakan bebas dan sadarnya, bukan sebagai bawaan alamiah. Keempat, tindakan dan ucapan hanya akan terjadi, dan hanya bias dipahami, dalam masyarakat. Masyarakat yang dipahami Arendt adalah ruang publik sebagai dunia bersama di mana manusia saling berbagi, salaing memahami, saling mendengarkan dan melihat sekaligus didengarkan dan dilihat. Ruang publik adalah ruang antara yang mempertautkan berbagai kepentingan manusia-manusia yang duduk mengitarinya. Kelima, kewarganegaraan menurut Arendt adalah kewarga-ruang-publikan. Sebagai warga ruang publik manusia diakui sebagai manusia sejauh dan selama ia mengekspresikan diri dalam tindakan dan mengkomunikasikan gagasan dan kepentingannya dalam ucapan. Keenam, fondasi dari keseluruhan arsitektur politik Hannah Arendt adalah kebebasan; dan kebebasan yang dimaksudkannya adalah kebebasan politik.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BD Speculative Philosophy
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology > BV1460 Religious Education
J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 21 Oct 2019 04:44
Last Modified: 21 Oct 2019 04:44
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/482

Actions (login required)

View Item View Item