Fundamentalisme Agama Di Indonesia Perspektif Konsep Agresi Erich Fromm (Suatu Analisis Sosio-Psikologis)

SO’O, Albino Gani (2019) Fundamentalisme Agama Di Indonesia Perspektif Konsep Agresi Erich Fromm (Suatu Analisis Sosio-Psikologis). Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (86kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (43kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (77kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (41kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (89kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (369kB)

Abstract

“Dunia adalah sebuah kampung global (global village)”, demikian seorang sosiolog Amerika Serikat menggambarkan perkembangan dunia modern saat ini. Modernisasi dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, menipiskan bahkan meruntuhkan batas-batas negara dan kebudayaan. Alhasil, disetiap pelosok jagat sering terjadi pertukaran agama, kebudayaan dan perpindahan penduduk. Hal inI menyebabkan terjadinya keragaman dalam pelbagai bidang kehidupan.Situasi seperti ini menciptakan suatu masyarakat, dimana manusia darietnis, suku, bangsa, dan begitu puladengan agama hidup bersama. Agama laintidak selamanya berada dalam kebudayaan atau negara tertentu saja, tetapi adadalam suatu “dusun global” hidup bersama. Kenyataan bahwa pluralitas agama menghadirkan kekayaan ketika menghadirkan berbagai macam jalan untuk mendekatkan manusia kepada Allah, tetapi disatu sisi, juga serentak memberikan tantangan dalam perbedaan yang ada, bisa dalam bentuk dialog maupun bentrok berdarah.Sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tampil sebagai salah satu tamansari kemajemukan dunia. Pertemuan dari berbagai dimensi kehidupan manusia ini, melahirkan berbagai konflik yang terjadi, entah atas dasar perbedaan pandangan, gaya hidup, agama, maupun demi kepentingan suatu golongan tertentu.Dalam masyarakat Indonesia sendiri, konflik berbau kekerasan atas nama agama menjadi akrab ditelinga kita akhir-akhir ini. Kejadian heboh terakhir yang masih kental dalam ingatan kita yaitu bom Sarinah di Jalan Thamrin Jakarta, 14Januari 2016.Diakhir tahun yang sama, unjuk rasa besar-besaran dengan angka411 dan 212, dimana Islam sebagai agama mayoritas menyatakan kehadirannya untuk membela agamanya sebagai bentuk protes terhadap ungkapan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Meskipun kedua unjuk rasa itu berlangsung tanpa caci maki, ancaman dan kekerasan, tetapi tetap menimbulkan kekhawatiran. Yang menjadi persoalan, mengapa isu agama menjadi “biang keladi” yang mampu menjadi penyulut api kebencian dari berbagai macam aksi kekerasan dalam negara kita.Menyadari fenomena ini sebagai sebuah masalah sosial,peneliti merasa terpanggil untuk mendalami hakikat realitas tersebut. Peneliti merasa tertantang dengan maraknya kasus-kasus kekerasan atas nama agama yang sering terjadi.Peneliti juga “terganggu” dengan kebiasaan dari masyarakat sekarang yang langsung memvonis sebuah kasus kekerasan antar umat beragama sebagai suatu pelanggaran hukum atau sebuah kebejatan. Hemat peneliti, seharusnya kita perlu menyelidiki lebih dahulu latar belakang atau penyebab dari kasus bersangkutan.Dengan proses penyelidikan seperti ini, kita dapat mengetahui situasi dan kondisi psikologis dan sosial dari pelaku, serta mengetahui motif dari perilaku kekerasan tersebut.Kesalahan terhadap penafsiran sebuah kasus kekerasan dapat jugadipengaruhi oleh kekeliruan seseorang memahami ilmu pengetahuan (tentang kekerasan) yang diterima, baik dari pendidikan formal maupun dari pendidikan informal. Penggunaan kata “agresi” dengan makna yang tidak tegas telah menimbulkan kerancuan dalam banyak literatur tentang topik ini. Misalnya pendapat dari para psikolog seperti Sigmund Freud dan Kondrad Lorenz tentangakar kekerasan (agresivitas).Erich Fromm seorang psikolog kelahiran Jerman, mencoba untuk mendalami persoalan ini dengan mengemukakan teorinya tentang agresi . Yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa argumennya sangat bertentangan atau kontradiksi dengan teori-teori psikolog lainnya, khususnya psikolog psikoanalisis diatas (Sigmund Freud dan Kondrad Lorenz).Berbeda dengan Freud dan Lorenz, Erich Fromm mengatakan bahwa agresi pada manusia tidak serta merta merupakan sifat bawaan. Fromm membagidua jenis agresi pada manusia, yakni agresi untuk mempertahankan diri (agresi defensif) dan agresi yang merusak (agresi destruktif). Alasanya adalah ketika agresi hanya direduksi sebagai sifat bawaan, maka tak ada alasan untuk menentang terjadinya agresi ini. Artinya kita dapat berdamai dengan adanya“kekerasan” karena “kekerasan” sudah ada dengan sendirinya dan harus disalurkan. Sementara kekerasan dalam dirinya sendiri dan dalam relasinya dengan akibat yang ditimbulkan memiliki makna yang negatif. Distingsi antara dua jenis agresi di atas seharusnya dapat membantu kita untuk menjernihkan suatu keraguan dalam seluruh pembicaraan tentang agresi(kekerasan) manusia. Bertolak dari teori agresivitas Erich Fromm, kita dapatdiantar pada sebuah tingkat kepedulian akan fenomena kekerasan yang seringterjadi antar umat beragama yang mengatasnamakan agama tertentu. untuk mencoba membaca fenomena kekerasan antar umat beragama ini dari perspektif Erich Fromm, khususnya mencoba melihat dan menganalisis kasus-kasus kekerasan ini, motif-motif kasus, dengan mengambil kesimpulan sederhana berdasarkan dua jenis kategori kekerasan menurut pandangan Erich Fromm.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Hendra Silvester
Date Deposited: 24 Oct 2019 02:53
Last Modified: 24 Oct 2019 02:53
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/518

Actions (login required)

View Item View Item