Dampak Perayaan Ekaristi Hari Minggu Bagi Persekutuan Umat: Studi Tentang Stasi St. Kristoforus Matani

KIIK, Adrianus (2019) Dampak Perayaan Ekaristi Hari Minggu Bagi Persekutuan Umat: Studi Tentang Stasi St. Kristoforus Matani. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
abstrak.pdf

Download (206kB)
[img] Text
BAB I 2019.pdf

Download (51kB)
[img] Text
BAB II-2019.pdf

Download (78kB)
[img] Text
BAB III-2019.pdf

Download (116kB)
[img] Text
BAB IV-2019.pdf

Download (110kB)
[img] Text
BAB V-2019.pdf

Download (488kB)

Abstract

Hari Minggu merupakan hari Tuhan. Sebagai hari Tuhan, umat Kristen berkumpul untuk melaksanakan ibadah komunal pada hari Minggu dan peringatan akan kebangkitan Yesus. Menghormati hari Minggu sebagai hari Tuhan merupakan tanda perjanjian baru yang diadakan lewat sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Pada hari itu, umat beriman wajib berkumpul mendengarkan sabda Allah, ikut perayaan Ekaristi, mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus dan bersyukur kepada Allah (bdk. 1 Ptr, 1:3). Perayaan Ekaristi pada hari Minggu merupakan inti hidup dan pusat perayaan liturgi Gereja. Konsili Vatikan II menggambarkan Ekaristi sebagai puncak seluruh karya mewartaan Injil dan detak jantung jemaat kaum beriman. Umat beriman harus mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi sebagai pusat dari segala kegiatan pada hari Minggu. Ekaristi hari Minggu merupakan persekutuan umat beriman dengan Allah dan sesama. Persekutuan merupakan fondasi utama dalam perayaan hari Minggu. Dengan adanya pengakuan bahwa Ekaristi merupakan bentuk persekutuan yang harus dilaksanakan pada hari Minggu, maka diakui pula bahwa hari Minggu adalah hari persekutuan umat beriman yang berpuncak pada perayaan Ekaristi. Dengan persekutuan ini, Yesus Kristus bersatu dengan umat-Nya dan memberi diri dalam rupa roti dan anggur. Persekutuan umat dengan Kristus tersebut bersifat terbuka, artinya bahwa Kristus hadir dalam Gereja di dalam dunia bukan untuk dirinya sendiri, melainkan persekutuan itu sungguh erat dalam hubungannya dengan umat manusia serta sejarahnya. Keterbukaan persekutuan teraktualisasi dalam membangun kerja sama yang lebih intens dan meningkatkan martabat manusia dan berpartisipasi secara aktif dalam membangun masyarakat yang adil, damai dan sejahtera. Gereja membuka diri dan bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Keterbukaan dalam persekutuan ini sudah terbukti dalam persekutuan Gereja perdana, di mana umat berkumpul bersama dan memecahkan roti dan perjamuan Tuhan (1 Kor 11:20) yang diungkapkan dalam dua cara sekaligus, yakni perayaan Ekaristi dan perjamuan makan persaudaraan. Untuk itu, Gereja tidak lagi bersifat eksklusif (tertutup), tetapi inklusif (terbuka). Terbentuknya persekutuan Kristus dengan umat-Nya menyata dalam kehidupan sehari-hari, di mana Gereja siap berdialog dengan budaya manapun. Oleh karena itu, dibutuhkan dialog untuk saling mengenal, menghargai dan memperkaya dalam iman akan Kristus. Dalam kehidupan sehari-hari, aneka pengalaman menyusahkan dan menggembirakan dialami bersama-sama. Tiap-tiap orang dengan pengalaman hidup yang khas senantiasa tergerak untuk membagikan pengalamannya, saling membantu dalam hidup sehari-hari.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: andre berek
Date Deposited: 24 Oct 2019 03:01
Last Modified: 24 Oct 2019 03:01
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/524

Actions (login required)

View Item View Item