Nilai Moral Menurut Ritual Adat Kema Keda Di Kampung Nuangenda Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende

GUIDA, Mariana (2019) Nilai Moral Menurut Ritual Adat Kema Keda Di Kampung Nuangenda Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende. Diploma thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
Abstraksi.pdf

Download (289kB)
[img] Text
Bab I.pdf

Download (285kB)
[img] Text
Bab II.pdf

Download (1MB)
[img] Text
Bab III.pdf

Download (834kB)
[img] Text
Bab IV.pdf

Download (696kB)
[img] Text
Bab V.pdf

Download (433kB)

Abstract

Kebudayaan sebuah masyarakat tanpak dalam berbagai warisan yang sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat tersebut. kebudayaan itu mencakup nilai-nilai tradisi, adat istiadat dan berbagai unsur religiositas serta penggunaan simbol-simbol. Salah satu unsur dan warisan budaya sebuah masyarakat adalah ritus. Sebagai bagaian dari kebudayaan, ritus ini dapat dilihat sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan sarana identifikasi suatu masyarakat. Sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan identifikasi suatu masyarakat, dalam ritus tersebut masih ada kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan berbagai praktek yang didalamnya terkandung unsur-unsur nilai moral dan makna tertentu. Nilai, makna, unsur-unsur, dan simbol yang terkandung dalam suatu ritus inilah yang merupakan aspek imanen terdalam dari kebudayaan. Oleh karena itu,kebudayaan adalah nilai hidup yang diwariskan dan dihidupi oleh suatu masyarakat yang menentukan eksistensinya di dunia. Berkaitan dengan hal ini, salah satu ritus yang merupakan warisan budaya masyarakat Nuangenda yang masih terus bertahan dan dihidupi hingga kini adalah ritus Kema Kema. Kema dalam bahasa Lio berarti Kerja sedangkan Keda merupakan kuil tempat tinggal roh-roh. Jadi, Kema Keda berarti pengerjaan kuil tempat tinggal roh-roh. Keda dibuat untuk menunjukan bahwa kampung itu adalah Nua Pu’u (kampung asal atau induk), atau sebagai bukti adanya peninggalan yang mempertahankan keturunan asli Weta-Nara (saudara-saudari) yang berasal dari daerah pegunungan. Ritus Kema Keda ini mengungkapkan banyak aspek berharga bagi pembinaan dan penghayatan akan nilai-nilai moral. Disamping itu pula, dalam ritus Kema Keda terkandung nilai-nilai tertentu diantaranya nilai tanggung jawab, disiplin diri atau ketaatan, serta nilai kebersamaan. Unsur nilai dan makna yang disebutkan ini memberikan gambaran positif terhadap upaya kontekstualisasi ajaran tentang nilai-nilai moral. Nilai moral yang muncul dalam tahapan-tahapan ritual Kema Keda pada dasarnya adalah juga merupakan sebuah norma tingkahlaku yang hidup dalam masyarakat adat Nuangenda. Dikatakan sebagai norma hidup karena sifatnya yang wajib dalam ritual Kema Keda dan karena itu menjadi suatu tuntutan tingkahlaku masyarakat berkaitan dengan upacara Kema Keda. Sesuatu yang sifatnya wajib, nilai moral tentu mempunyai tempat yang penting baik dalam hubungannya dengan ritual Kema Keda maupun dengan bangunan Keda itu sendiri. Nilai-nilai moral yang terdapat dalam ritual Kema Keda ialah yang pertama nilai moral Kebersamaan, dimana masyarakat disadarkan kembali akan nilai-nilai kebersamaan bahwa mereka adalah sebuah kelompok yang selalu hidup berdampingan dan saling membutuhkan satu sama lain dalam bekerja sama. Selain ini juga,dalam upacara Kema Keda terdapat macam-macam nilai moral kebersamaan yaitu semangat persatuan dan kesatuan, tidak membeda-bedakan satu sama lain, menjunjung tinggi hak asasi manusia, memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengemukakan pendapat, tidak memaksa kehendak kepada orang lain, menghargai agama dan kepercayaan yang berbeda, menghargai dan menggunakan produk dalam masyarakat, tidak menghina simbol-simbol yang ada dalam Kema Keda dan yang terakhir mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi.1 Kedua nilai moral tanggung jawab, nilai ini terkait dengan sikap seseorang yang bertanggung jawab. Suatu nilai moral hanya bisa diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang bersangkutan. Itu berarti bahwa perbuatan itu berasal dari inisiatif bebas seseorang atau individu itu sendiri. Hal ini juga tak terlepas dari nilai-nilai lain yang juga mengandaikan peranan manusia sebagai pribadi yang bebas. Ketiga nilai moral disiplin tercermin dalam sikap masyarakat yang senantiasa taat dan patuh terhadap tuturan-tuturan adat yang disampaikan oleh Mosalaki. Tuturan-tuturan adat ini lebih bermakna peringatan agar seluruh masyarakat untuk sungguh-sungguh mendisiplinkan diri. Jika tidak disiplin dan melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan bersama, maka hidupnya akan mengalami kemalangan, penderitaan bahkan bisa berujung pada kematian. Selain itu disiplin juga sebenarnya mau menonjolkan peranan hati nurani. Dalam arti bahwa hati nurani merupakan “kunci”, kerena dalam tindakan, manusia melihat apa yang dibuatnya. Jadi setiap tindakan manusia ada suatu tuntutan yang mendesak yakni nilai moral, yang timbul dalam hati nurani manusia. Hati nurani atau suara hati merupakan suatu kesadaran yang ada dalam setiap hati manusia sehingga mampu mengenal dirinya. Tanpa disadari sebenarnya hati nurani merupakan suatu pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman empiris atas nilai moral. Selain ketiga nilai moral ini, ada pula nilai-nilai lain yang secara tidak langsung terkandung dalam ritual Keda Keda yaiu nilai Anteroposentris dan nilai Ekosentris. Moral Antroposentris berpandangan bahwa manusia adalah fakta sentral dari eksistensi dan bahwa semua hal yang berhubungan dengan etika harus diukur dengan bagaimana etika itu berpengaruh kepada kepentingan manusia. Teori ini memandang bahwa manusia merupakan pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini bukan berarti bahwa dalam ritual Kema Keda masyarakat Nuangenda menganggap bahwa mereka sepenuhnya menguasai alam dengan bertindak semena-mena, melainkan yang mau ditonjolkan di sini adalah sisi baik dari manusia itu sendiri. Dimana manusia menghargai dan menghormati alam sebagai bagian dari dirinya. Sedangkan nilai Ekosentris berpusat pada alam, sebagai oposisi kepada yang berpusat pada manusia, sebagai sistem nilai. Ekosentrisme fokus pada komunitas biotik sebagai suatu keseluruhan dan bekerja untuk menjaga komposisi ekosistem dan proses ekologis. Menurut pandangan ini, bumi memiliki nilai hakiki (intrinsic value) yang harus dihormati oleh manusia. Pentingnya nilai moral ini membuat ia pantas memperoleh perhatian baik dari anggota masyarakat sendiri maupun dari orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Perhatian yang diberikan sebagai apresiasi terhadap suatu nilai budaya juga bertujuan agar nilai-nilai itu dihidupi dengan sadar. Karena tanpa pengetahuan yang benar tentang nilai yang terkandung dalam suatu norma hidup, pola perilaku atau tata hidup, masyarakat pendukung suatu kebudayaan mungkin menjalankannya tanpa sadar bahwa mereka menghidupi nilai-nilai yang tentu bermakna bagi hidup mereka. Jika hal ini tidak disadari, maka masyarakat akan mudah meninggalkan kebudayaannya sendiri dan cenderung untuk mengikuti kebudayaan lain. Atas dasar inilah maka ritual Kema Keda harus tetap dijaga dan dilestarikan sebagai aset budaya sekaligus sebagai tonggak dasar dan pengontrol pola hidup, nilai moral dalam lingkup adat Nuangenda.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 24 Oct 2019 03:09
Last Modified: 24 Oct 2019 03:09
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/525

Actions (login required)

View Item View Item