Pergeseran Nilai Sosial Dari Ritus Pasola Di Kampung Wainyapu Kecamatan Kodi-Sumba Barat Daya.

OBA, Kristiforus Mardo (2019) Pergeseran Nilai Sosial Dari Ritus Pasola Di Kampung Wainyapu Kecamatan Kodi-Sumba Barat Daya. Diploma thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (300kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (137kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (157kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (201kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (143kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (685kB)

Abstract

Kenyataan universal yang tak perlu langsung dipermasalahkan adalah bahwa manusia dan budaya tak dapat dipisahkan. Hal ini diyakini demikian karena manusia berasal dari budaya, dalam artian dilahirkan dalam kebudayaan manusia. Tetapi bila kita melihat derap perkembangan dalam berbagai bidang kehidupan manusia dalam budaya, maka kiranya sudah saatnya untuk memperhatikan masalah-masalah dalam budaya, sebagai suatu subjek menghadapi objek-objek dalam lingkungannya. Dengan alasan inilah penulis terdorong untuk mengangkat persoalan ini ke permukaan untuk diteliti dalam kajian ilmu budaya yang dalam karya ini penulis beri judul: Pergeseran Nilai Sosial Dari Ritus Pasola Di Kampung Wainyapu Kecamatan Kodi-Sumba Barat Daya. Ritus Pasola pada dasarnya bermakna untuk mengokohkan relasi yang membawa dampak positif bagi keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan dengan sesama maupun leluhur dan Wujud Tertinggi. Akhirnya ritus Pasola merupakan upacara keagamaan tradisional yang mengacuh pada korban darah yang dikaitkan dengan doa syukur dan doa permohonan. Dengan ini maka penulis dapat mengatakan bahwa ritus Pasola sesungguhnya menghadirkan dan memupuk persatuan dan kesatuan unit masyarakat baik dalam keluarga, sesama suku serta masyarakat luas. Dalam kajian budaya ini, penulis secara khusus mengangkat kembali makna dari ritus Pasola, mengenai Pergeseran Nilai Sosial Dari Ritus Pasola Di Kampung Waiyapu, Kecamatan Kodi-Sumba Barat Daya. Pasola merupakan bagian budaya yang sudah lama melekat bersama masyarakat Wainyapu sendiri, dengan tujuan yang luhur. Oleh karena itu, kajian ini pertama-tama ditujukan bagi masyarakat Kodi khususnya masyarakat Wainyapu, bagi para pembaca dan penulis sendiri serta para tokoh adat dan para pemerhati kebudayaan atau masyarakat luas. Selain itu, kajian ini 10 juga dapat membantu generasi muda, untuk dengan setia mengkaji makna-makna dari ritus Pasola maupun dari produk budaya lain. Menurut Jean Baudrillard dalam Mudji Sutrisno & Hendar Putranto (editor), “kebudayaan” telah dipengaruhi oleh budaya konsumerisme, di mana kita hidup tidak lagi didasarkan pada pertukaran barang materi yang berdaya guna (seperti model Marxisme), melainkan pada komoditas sebagai tanda dan simbol yang signifikansinya sewenang-wenang (arbitrer) dan tergantung kesepakatan (convention) dalam apa yang disebut “kode” (the code). Produk-produk kebudayaan yang diwariskan oleh para pendahulu, kini dianggap kuno dan tidak mampu lagi menjawabi kebutuhan manusia. Warisan-warisan itu diabaikan, tidak lagi penting dan membosankan. Jika dulu ada pohon, batu hingga patung, masyarakat masa kini pun punya kultus-kultus sendiri seperti terhadap kemasan benda-benda, citra (image), televisi, serta terhadap konsep kemajuan (progress) dan pertumbuhan. Pergeseran makna ini terjadi pula pada salah satu produk kebudayaan masyarakat Sumba Barat yaitu Upacara Pasola. Upacara Pasola yang semula adalah ritus adat warisan nenek moyang masyarakat Kodi yang pada awal mula menjadi lambang perdamaian, lambang persaudaraan, lambang pelepasan kesedihan masyarakat Kodi kini telah bergeser maknanya menjadi ajang pembalasan dendam, ajang mencari musuh dan ajang show tanpa suatu penghayatan yang sungguhsungguh mendalam dari para pelakunya. Hal inilah yang menjadi masalah dan kekawatiran para pemerhati kebudayaan. Hal yang ditakutkan dari pergeseran makna upacara Pasola ini adalah masyarakat akan hidup tidak aman, selalu saling mencurigai, ketenangan batin sulit dicapai karena selalu gelisah akan musuh di sekelilingnya. Keserasian hidup, keharmonisan, kedamaian dan persaudaraan sejati tidak akan tercapai kalau hal ini tidak segera diatasi. Melihat pergeseran makna budaya yang semakin memudar dan semakin memprihatinkan inilah, penulis tergerak untuk meneliti dan mereflesikan dan kebudayaan ini. Maka peneliti mengambil judul: “Pergeseran Nilai Sosial Dari Ritus Pasola Di Kampung Wainyapu Kecamatan Kodi-Sumba Barat Daya.”

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 25 Oct 2019 05:19
Last Modified: 25 Oct 2019 05:19
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/566

Actions (login required)

View Item View Item