Konsep Etika Nilai Max Scheler Sebagai Rujukan Berpolitik Bagi Generasi Milenial

NDUN, BenediktusDosa (2021) Konsep Etika Nilai Max Scheler Sebagai Rujukan Berpolitik Bagi Generasi Milenial. Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
COVER.pdf

Download (766kB)
[img] Text
BAB I EDY.pdf

Download (195kB)
[img] Text
BAB II EDY.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (325kB)
[img] Text
BAB III EDY.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (315kB)
[img] Text
BAB IV EDY.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (373kB)
[img] Text
BAB V edy.pdf

Download (240kB)

Abstract

Dewasa ini realita perpolitikan di Indonesia sudah jauh sekali dari prinsip politik-demokrasi. Nilai luhur dari politik yakni mengusahakan kesejahteraan bagi masyarakat malah dipelintir oleh elite-elite politik untuk kepentingan diri dan kelompok. Nilai-nilai luhur kebangsaan diobrak-abrik elite-elite politik dengan membuat kebijakan yang menguntungkan mereka. Akibatnya masyarakat yang adalah pemilik demokrasi menjadi korban. Tak heran jika masyarakat menderita dan miskin. Praktek politik oligarki telah membuat rakyat tak berdaya. Berdasarkan fakta ini, generasi milenial yang adalah masa depan bangsa dipanggil dan ditantang untuk memback-up setiap praksis politik yang menyimpang dari nilai-nilai politik demokrasi. Misalnya politik kekuasaan, politik uang, dan politik primordialisme. Generasi milenial dipanggil untuk mempromosikan nilai-nilai luhur politik dengan mendasarkan pemikirannya pada filsafat nilai Max Scheler. Dalam uraian tentang nilai, Max Scheler adalah salah satu tokoh yang banyak berbicara tentang nilai. Max Scheler mendasarkan etika (tindakan baik manusia) pada nilai. Pemikirannya tentang nilai ini terdapat dalam bukunya: Der Formalismus in der Ethik und die materiale Wertethik (Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai Material). Buku ini berisikan esensi aksiologi Scheler, karena etikanya dapat diubah menjadi sebuah teori nilai. Teori nilai adalah teori yang menilai baik buruknya perbuatan dari segi bernilai dan tak bernilainya. Dan di dalam bukunya juga didiskusikan secara fenomenologis susunan nilai-nilai sebagai yang hadir pada kesadaran dan sebagai kritik terhadap pendekatan etika Kant yang semata-mata formal. Dalam teorinya, Scheler mengemukakan tentang hierarki nilai yang terdiri dari empat bagian yang saling berbeda (tidak ada hubungan dalam persamaan dan perbedaan). Nilai-nilai itu viii ialah pertama, nilai-nilai kesenangan dan ketidaksenangan. Tingkat pertama ini berisi deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan, yang menyebabkan seseorang menjadi senang atau menderita tidak enak. Kedua, nilai-nilai kehidupan. Tingkat kedua ini berisi deretan nilai-nilai yang penting bagi kehidupan misalnya kesehatan, kesegaran badan dan kesejahteraan umum. Ketiga, nilai spiritual atau nilai kejiwaan. Nilai-nilai kejiwaan ini tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungan. Nilai-nilai ini juga dibedakan secara hierarkis sebagai berikut: nilai keindahan dan berbagai nilai estetis murni yang lain, nilai kebenaran, yang seharusnya dibedakan dengan benar dan salah(melanggar), nilai pengetahuan murni yang direalisasikan oleh filsafat. Dan yang terakhir, nilai-nilai kerohanian. Dalam tingkat yang keempat ini berisikan modalitas nilai yang suci dan tidak suci. Nilai ini tidak dapat direduksi menjadi nilai kejiwaan dan memiliki keberadaan yang khas dengan menyatakan diri dalam berbagai objek sebagai yang mutlak. Scheler lalu berpendapat bahwa ke empat nilai tersebut bukan realitas empiris melainkan apriori yang berarti mendahului penilaian dan pengalaman empiris (di luar pengetahuan) dan bersifat objektif. Nilai-nilai bukan diciptakan melainkan ditemukan dan dirasakan lewat apriori emosional. Dan perasaan terhadap nilai-nilai bersifat intensional yakni diarahkan langsung pada nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut adalah mutlak tidak terbagi dan tidak tergantung pada siapa dan apapun di dunia termasuk jawaban kita terhadap nilai-nilai tersebut. Nilai adalah kualitas apriori. Berdasarkan uraian tentang etika nilai tersebut, Scheler lalu menegaskan bahwa politik juga berkaitan dengan nilai. Maka politik sejatinya merupakan suatu kekuasaan yang berlandaskan kemauan dengan tujuan untuk merealisasikan nilai-nilai (nilai-nilai yang dimaksudkan adalah nilai-nilai positif). Maka itu dalam melakukan suatu aktivitas politik, ix generasi milenial haruslah mempromosikan nilai luhur politik yakni nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yakni kesejahteraan bersama. Kebaikan bersama selalu menjadi cita-cita yang harus diimplementasikan. Kebaikan bersama hanya terwujud bila ada relasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Ini menunjukkan hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politis. Karena keduanya bersifat kodrati maka sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk mengusahakan kebaikan bersama demi mewujudkan sifat kodrati tersebut. Adapun nilai-nilai lainnya yakni nilai keadilan, nilai spritualitas dan nilai kemanusiaan. Nilai keadilan bertujuan menciptakan kesejahteraan bersama. Menurut Scheler nilai keadilan mengacu pada satu urutan yang ditetapkan oleh hukum, dan yang tidak tergantung pada ide tentang Negara dan legislasi positif. Demikian keadilan dapat ditemukan dalam hukum. Hukum yang mengandung nilai keadilan itu dapat dibenarkan dan diakui secara moral. Hukum yang adil mengupayakan kesejahteraan semua warga masyarakat dan bukan hanya sebagian. Karena politik adalah bagian dari kodrat manusia maka politik tanpa spiritualitas juga kehilangan maknanya. Politik dan spiritualitas saling bekerja sama dalam mencapai kebaikan bersama sebagai tujuan dari politik dan nilai itu sendiri. Nilai spiritualitas merupakan kajian yang terarah pada dinamisme relasi manusia dengan Tuhan sejauh yang terwujud dalam ranah sosial-politik. Selanjutnya selalu ada keterkaitan erat antara politik dan nilai kemanusiaan. Dalam nilai kemanusiaan, terdapat suatu tanggung jawab dalam memilih dan bertindak. Tanggung jawab tersebut sejatinya adalah upaya untuk pemenuhan kodrat manusia sendiri demi mencapai martabat kemanusiaannya. Dengan memperjuangkan kemanusiaan dalam berpolitik maka akan tercapai politik yang berkemanusiaan di mana kemanusiaan menjadi basis utama untuk diperjuangkan. x Seluruh uraian di atas menjelaskan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan nilai-nilai positif yang harus ada dalam realitas kehidupan dan kehadirannya merupakan suatu kewajiban serta nilai-nilai ini tidak dapat direduksi oleh pengemban nilai, misalnya benda, tindakan manusia (tindakan yang dimaksud dalam konteks ini adalah tindakan elite-elite politik yang menyimpang dari nilai luhur kebangsaan). Oleh karena itu, ketika generasi milenial berhadapan dengan fakta-fakta yang jauh dari nilai-nilai luhur politik, maka reaksi jawaban (antwortsreaktion) yang diberikan adalah tidak setuju bahkan marah bukan sebaliknya malah ikut mempraktekkan hal-hal yang meyimpang seperti kampanye hitam dan lain sejenisnya. Menurut Scheler ketika berhadapan dengan realita demikian manusia dengan hati yang bergetar sudah memilih nilai mana yang paling tinggi dan nilai mana yang paling rendah. Jika dilihat dari pemikiran Scheler maka tindakan dari para elite politik adalah tindakan yang berdasarkan nilai yang paling rendah karena mengikuti nilai kenikmatan yakni sesuatu yang berkaitan dengan unsur jasmani. Menurut Scheler kita harus mengejar sesuatu yang tidak berkaitan dengan unsur jasmani. Dengan demikian konsep etika nilai Scheler ini sangatlah relevan bagi dunia perpolitikan di Indonesia ini yang sudah carut-marut akibat krisis nilai. Dengan mempromosikan dan mempraktekkan politik nilai maka wajah perpolitikan bangsa kita kembali membaik dan menampakan pesonanya sebagai bangsa dan negara yang berlandaskan pada pancasila dan UUD’45. Politik yang berlandaskan pada nilai adalah suatu etika yang berbasiskan nilai dengan tujuan menata kehidupan bersama yang kacau balau dan tidak terarah. Akhirnya nilai-nilai perlu disadari dengan membuka hati dan pikiran kita terhadap nilai sebab nilai bukanlah diciptakan melainkan ditemukan dengan jiwa yang bergetar.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: Antonia M. Ngole
Date Deposited: 04 Jul 2022 01:52
Last Modified: 04 Jul 2022 01:52
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/5849

Actions (login required)

View Item View Item