Estetika Pet'e Lelu Kebudayaan Woe Turu, Bajawa-Ngada-Flores

Kornelius, Gere (2022) Estetika Pet'e Lelu Kebudayaan Woe Turu, Bajawa-Ngada-Flores. Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (598kB)
[img] Text
Bab I.pdf

Download (90kB)
[img] Text
Bab II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (118kB)
[img] Text
Bab III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (143kB)
[img] Text
Bab IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (141kB)
[img] Text
Bab V.pdf

Download (3MB)

Abstract

Pengertian estetika pada dasarnya terkait dengan beberapa masalah seperti: keindahan, seni, ekspresi, bentuk serta pengalaman estetis. Secara garis besar, estetika dapat juga digolongkan menjadi dua yakni estetika (keindahan) alami dan estetika (keindahan) buatan (diwujudkan oleh manusia). Pertama, Estetika alami tidak dapat dibuat oleh manusia atau sesuatu wujud keindahan akibat peristiwa alam. Kedua, Estetika yang diwujudkan oleh manusia pada umumnya disebut sebagai benda-benda yang memiliki nilai seni. Benda-benda seni, selain memiliki nilai-nilai estetika atau mengandung unsur-unsur estetika, juga merupakan penuangan ekspresi dari seorang seniman dalam mengungkapkan perasaannya. Estetika merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat. Karena merupakan suatu disiplin ilmu dalam filsafat maka estetika selalu dibicarakan dan dikaji dari masa Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Masa Renaisance, dan Pasca-Modernisme dengan padangan yang khas sesuai dengan zamannya masing-masing. Masa Yunani Kuno menggambarkan seni sebagai teknik, rasional, kreativitas, dan memiliki fungsi. Abad Pertengahan melihat yang Indah itu sekaligus sempurna berciri harmoni/selaras, serta jelas atau terang. Sedangkan estetika Pasaca-Renaisance digambarkan sebagai yang multitafsir, Intertektsualitas dan Heteromoni. Estetika merupakan kondisi yang berkaitan dengan keindahan yang dapat dirasakan, namun keindahan itu baru dapat dirasakan jika terjalin perpaduan harmonis antara elemen-elemen keindahan yang terkandung dalam suatu obyek. Pada dasarnya, estetika merupakan hal yang utama dalam suatu kehidupan. Estetika sebagai suatu kondisi, berkaitan erat dengan keindahan yang dapat dirasakan oleh seseorang (manusia), dan rasa keindahan tersebut dapat dirasakan apabila terjalin perpaduan yang harmonis antara elemen-elemen keindahan tersebut dalam suatu obyek. Awal milenium ketiga ini estetika tidak hanya bersifat statis artinya hanya berpaku pada teknik, struktur serta keharmonisan lebih dari itu estetika harus mampu memberi makna dan arti serta peran estetika dalam berbagai cabang kehidupan. Keberadaan manusia sebagai makhluk beragama dan berbudaya tidak terlepas dari unsur-unsur estetika atau keindahan. Estetika bertumbuh dan berkembang dalam dua segi kehidupan. Pertama, Estetika Religius. Estetika religius ialah estetika yang ada dalam kehidupan religius atau keagamaan. Dari estetika tersebut kita bisa mengetahui agama yang dianut seseorang. Misalnya dengan mengenakan berbagai ikon dalam agama masing-masing. Kedua, Estetika budaya. Dalam kebudayaan estetika itu sangat berarti. Estetika atau kesenian mempermudah orang-orang untuk mengenal akan identitas seseorang dari mana asalnya dan kebudayaan apa yang dianut. Asumsi penulis, masyarakat suku turu seperti kebudayaan-kebudayaan lokal lainnya meyakini bahwa Pete lelu (ikat benang) mengandung arti yang penting. Bertolak dari hasil pengamatan penulis, masyarakat Woe Turu masih mempertahankan praktik Pete Lelu. Makna Pete Lelu bagi masyarakat Woe Turu justeru dibentuk; Pertama, dari bagaimana praktik Pete Lelu dijalankan, yakni bahan-bahan, orang-orang yang melakukan praktik Pete Lelu serta doa yang diucapkan. Kedua, dari menafsir motif-motif yang direkayasa sebab setiap motif pasti memiliki arti tertentu. Metode penentuan praktik Pete Lelu bagi masyarakat Woe Turu sangat penting. Ada persayaratan-persayaratan tertentu yang harus digenapi dan tidak boleh dilanggar. Sebab jika dilanggar maka akan mendapat konsekwensi yang tidak diinginkan, seperti sakit-sakitan dan bahkan kematian. Sebagai salah satu jenis kearifan lokal, Pete Lelu dapat dijadikan sebagai pegangan dan norma tangkah laku masyarakat Woe Turu. Berkaitan dengan Pete Lelu, masyarakat Woe Turu juga meyakini bahwa nama berdimensi masa lalu dan masa depan. Masa lalu berarti Pete Lelu merupakan warisan leluhur, dan dimensi masa depan berarti ada harapan agar setiap orang yang mengembangkan praktik Pete Lelu dan yang mengenakan kerajinan tersebut hidup sesuai dengan nilai yang terdapat dalam karya tersebut. Beberapa point yang ditemukan dari praktik Pete Lelu memberikan sumbangan berupa pandangan filosofis dan teologis. Filsafat yang dimaksud adalah pandangan hidup atau cara pandang orang tentang segala sesuatu termasuk tentang cara pandang masyarakat Woe Turu menyangkut praktik Pete Lelu. Ada beberapa nilai filosofis dan teologis dari Pete Lelu yaitu mengenang masa lalu, juga sebagai harapan, berdimensi sosial dan berdimensi transendental. Semua didapatkan dari analisis tentang doa dalam ritus Pete Lelu serta penafsiran motif-motif yang direkayasa. Sehingga dari makna filosofis dan teologis yang ditemukan melalui hasil direfleksikan sehingga sebagai hal penting mendukung bahwa Pete Lelu itu berharga, Pete Lelu harus dipelihara. Nila filosofis dan teologis inilah yang menjadi pegangan bagi masyarakat Woe Turu tentunya menjaga warisan leluhur secara baik. Pete Lelu sebagai kenangan akan leluhur. Masyarakat Woe Turu meyakini bahwa Pete Lelu merupakan kenangan leluhur. Kenangan akan leluhur bukan hanya karena mereka adalah leluhur, lebih dari itu identitas mereka selalu dikenang oleh karena kecerdasan, kehebatan mereka untuk menemukan sesuatu yang baru baik untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga untuk dijadikan pedoman hidup. Hingga sekarang masyarakat Woe Turu selalu mengenang kehebatan leluhur mereka. Dari beberapa bagian yang telah diuraikan di atas seperti menemukan bahan dari alam untuk menjadikan sebuah kain tenun yang indah. Oleh karena itu sebagai kenangan akan leluhur, baik Pete Lelu maupun jenis kearifan lokal lainnya (local genius) perlu dijaga dan ditumbuh kembangkan. Pete Lelu sebagi harapan artinya setiap orang yang mengembangkan praktik Pete Lelu dan yang mengenakan hasil kerajinan itu harus hidup sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat didalamnya seperti harus hidup murni, berlaku baik sesuai tuntutan nilai yang diwariskan. Pete Lelu selain dipandang sebagai kerajinan tangan atau pekerjaan di sisi lain melalui corak motif yang dirangkai juga terkandung nilai-nilai yang dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat setempat yang dibuktikan dengan bahasa atau Pata Dela seperti Suu papa suru saa papa laka (saling menolong dalam memikul saling bantu dalam menjunjung), Ngeta bhagi ngia – mami utu mogo (mentah adalah hak milik masing-masing, tetapi masak adalah hak milik bersama), Wagha mogha nee padhi loka (ambil dan berbagi dengan tetangga), Modhe nee soga woe-meku nee doa delu (berbuat baik dengan teman-berlembut hati dengan sahabat). Pedoman hidup itulah yang telah dihayati dan dijalani para leluhur. Praktik Pete Lelu selain melahirkan nilai filosofis, terdapat juga nilai teologis yang selalu dipegang masyarakat Woe Turu hingga sekarang. Nilai teologis yang di maksud adalah pandangan masyarakat setempat yang meyakini bahwa dibalik dari semua yang ada mau menggambarkan tentang adanya wujud tertinggi sebagai Alfa dan Omega dari segala sesuatu. Pete Lelu yang dikembangkan masyarakat Woe Turu hanya meneruskan dari apa yang telah diadakan sebelumnya. Allahlah pengada dari segala sesuatu. Allah sebagai penggerak utama yang menggerakkan manusia untuk melanjutkan apa yang telah diadakan-Nya. Bertolak dari tujuan karya seni yaitu memanusiakan manusia, memperindah alam semesta dan memuliakan Tuhan. Dengan demikian praktik Pete Lelu dikembangkan selain untuk memanusiakan manusia, memperindah alam semesta, akan tetapi Pete Lelu dikembangkan juga untuk memuliakan Tuhan (1Kor 10:31). Nilai teologis inilah yang menjadi pegangan bagi masyarakat Woe Turu untuk menjaga warisan praktik Pete Lelu. Praktik Pete Lelu yang terdahulu dengan melakukan ritus pembuka melalui hewan korban dan doa adat sebenarnya mau menunjukkan bahwa tidak adanya keterpisahan antara manusia dengan yang transendens yaitu Allah sendiri. Manusia selalu membutuhkan perlindungan dan penyertaan dari Allah sebagai pemilik dan penguasa alam semesta. Manusia menyadari bahwa Allahlah pemilik karya seni dan manusia hanya meneruskan apa yang terdahulu ada atau dengan kata lain manusia hanya sebagai rekan kerja Allah (Kej 1:26). Semua yang dilakukan manusia demi kemuliaan Allah sendiri. Demi mengakui dan mengagumi kebesaran Allah masyarakat Woe Turu mempunyai ungkapan tersendiri untuk menyatakan itu semua seperti Lizu Dewa da riku, ola Dewa da rona (Langit Tuhanlah yang menghiasinya, bumi Tuhanlah yang membuatnya. Syair ini dimaknai bahwa langit, bumi dan semesta alam adalah ciptaan Tuhan), Dewa zeta ola lewa, ngai loi ladho mea (Tuhan di tempat tinggi, kaya dan tak ada yang melebihiNya. Hal ini berarti Tuhan adalah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa. Tak ada makhluk yang melebihiNya, karena semua makhluk adalah ciptaanNya), Dewa ghe reta lena, geka le mara bhiru-bhera, gote Nitu ghe rale tana, bhara bhai dhu da sama (Tuhan yang berada di Surga, indah dan berwarna-warni, biarpun nitu yang berada di bawah tanah sangat putih dan cantik, tetapi tidak menyamai Tuhan. Maksud yang sebenarnya adalah Tuhan yang bersemayam di surga adalah Mahamulia dan Mahasuci walaupun nitu yang ada di dalam tanah sangat cantik, tetapi tidak dapat menyamai kemuliaan Tuhan). Akhirnya sebagai suatu karya ilmiah tulisan ini diberi judul Estetika Pete Lelu Kebudayaan Woe Turu, Bajawa Ngada Flores.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Philosophy, Art, Way of Life, Pet’e Lelu, Woe Turu
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BH Aesthetics
B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Fakultas Filsafat
Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Fil Kornelius Gere
Date Deposited: 07 Jul 2022 03:19
Last Modified: 07 Jul 2022 03:19
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/7053

Actions (login required)

View Item View Item