Kewajiban Dalam Etika Perspektif George Edward Moore

USATNOBY, Venansius Makun (2019) Kewajiban Dalam Etika Perspektif George Edward Moore. Diploma thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
Abstraksi.pdf

Download (343kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (304kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (360kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (413kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (382kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (227kB)

Abstract

Dasar etika Moore adalah tiga pertanyaan yang berkaitan dengan tindakan yang harus dilakukan dengan terlebih dahulu melihat apa yang bernilai dan keduanya ini menurut Moore, didasarkan pada apa itu “baik”. Di sini jelas bahwa “baik” merupakan kata kunci etika, yang oleh Moore pula dilihat sebagai hal yang sangat penting.Moore memulai etikanya dengan bertitik tolak pada pemahaman yang benar tentang kata “baik”.Kata “baik” merupakan hal yang perlu untuk dipahami karena “baik” adalah hal yang paling urgen dalam etika ini. Secara harafiah, Moore mau mengatakan bahwa upaya untuk mencapai “kebaikan” terlebih dahulu harus didasarkan pada adanya pemahaman yang benar akan konsep baik dalam etika. Dalam usaha ini, Moore menjelaskan bahwa “baik” tidak ada penjabaran yang lebih benar selain baik itu sendiri.“Baik” adalah baik. Baik menurut Moore, sebagai kata sifat tidak dapat diartikan dengan kata lain. Dia berpendapat bahwa bila kata “baik” didefinisikan maka itu akan memunculkan suatu masalah baru. Baginya, bila diperhadapkan dengan persoalan tentang pencarian arti kata “baik”, maka jawaban untuk menjawabi pertanyaan itu adalah “baik adalah baik”. Dan dengan mengatakan demikian, secara definitif menjawabi persoalan. Karena baginya, pendefinisian suatu kata itu adalah tindakan mengartikan kata itu dengan kata-kata lain. Dan bagi Moore, ini lebih cocok untuk penulisan daftar istilah pada kamus.Sedangkan yang menjadi titik permasalahan Moore adalah bagaimana mengetahui arti dasariah dari kata itu. Materi kata “baik” adalah baik itu sendiri. Moore mengatakan bahwa jika ia disodorkan pertanyaan tentang „Bagaimana baik itu didefinisikan?‟, secara terus terang ia akan mengatakan bahwa tentang itu (baik) tidak dapat didefinisikan. Term “baik” itu banyak makna, namun tak mampu dilukiskan. Moore menyadari bahwa jawabannya ini tentu mengecewakan tetapi menurutnya ini sangat penting untuk dipahami. Karena baginya, jika seseorang memahami secara betul maka tidak akan ada penipuan terhadap arti atau makna kata “baik”. Berbicara tentang good in itself, berarti berbicara tentang baik pada umumnya.Yaitu baik yang mencakup keseluruhan. “Baik” dengan nilai yang melingkupi semua.Good in itself adalah “baik” yang tertinggi. Yang darinya bersumber kebaikan-kebaikan.Good in itself merupakan nilai intrinsik yang mana nilai itu ada dan berada di dalam dirinya sendiri. Ia adalah “baik” yang absolut yang diterima umum. Good in itself adalah sesuatu yang utuh dan tidak dapat dibagi lagi. Oleh karenanya, good in itself ini berkaitan dengan sesuatu yang selalu baik.Ketika berbicara tentang good in itself, kita berbicara tentang nilai yang tetap dan tidak dapat diganggugugat.Dalam arti bahwa nilai itu mencakup semua yang baik yang ada. Namun hal itu berbeda ketika arah pembicaraan beralih ke good as means. Hal yang paling mendasar adalah bahwa good as means tidak menjamin keutuhan nilai “baik” yang ada untuk berlaku di daerah lain. Bisa dikatakan bahwa good as means lebih terikat pada ruang dan waktu.Dikatakan demikian karena good as means tidak terbuka umum.Good as means terpaku pada norma yang berlaku pada lingkungan masing-masing. Yang baik bagi saya, belum tentu baik bagi orang lain. Atau dengan kata lain, baik itu bersifat situatif. Di mana bahwa kadar kebaikan itu ditentukan oleh keadaan suatu daerah tertentu yang belum tentu berlaku di daerah lain. Kebaikan dalam good as means tidak bersifat mutlak dan universal tetapi bersifat tertentu dan terbatas. Good as means lebih menjurus kepada cara pengungkapan. Oleh karena tertuju pada cara pengungkapan inilah maka good as means dikatakan sebagai terbatas. Dari penjelasan di atas, hal inti yang mau dikatakan yaitu pada dasarnya good in itself adalah kebaikan universal, baik yang ada pada dirinya, baik absolut yang diterima oleh khalayak umum; yang bersifat tetap.Good in itself adalah baik yang tidak tergantung pada ada tidaknya sesuatu yang lain. Good in itself tidak ditentukan pada sikap seseorang tetapi good in itself itu adalah baik karena ia baik. Dan good as means merupakan baik yang terbatas di mana nilai kebaikannya ditentukan oleh masyarakat wilayah setempat dan nilai itu tidak berlaku bagi wilayah yang lain. Karena hal yang baik pada saya belum tentu baik pada orang lain.Di sini menjadi nampak bahwa good as means lebih menekankan unsur subyektifitas sedangkan good in itself lebih pada obyektifitas nilai. Maka dari itu, good as means adalah “baik” yang berada pada ruang lingkup yang terbatas. Bila kata “baik” (good) tidak dapat didefinisikan, hal ini tidak berarti realitas yang baik atau sesuatu yang baik (the good), tidak dapat juga didefinisikan. Moore menegaskan bahwa bila pernyataan tentang “yang baik” (the good) tidak dapat didefinisikan maka ia tidak boleh menulis tentang etika karena justru tujuan utama ia menulis etika adalah membantu menemukan definisi pada “yang baik” (the good). Secara sederhana dikatakan “baik” (good) terbedakan dengan benda atau realitas “yang baik” (the good). Ini dikarenakan, apabila terjadi percampuran antara kata “baik” dengan „apa yang baik‟, maka akan menimbulkan kekeliruan naturalistik seperti yang dijelaskan sebelumnya. Lebih lanjut Moore menjelaskan bahwa “baik” (good) adalah kata sifat.Sedangkan “yang baik” (the good) adalah kata benda atau realitas yang padanya kata sifat “baik” itu diterapkan.Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa “the good” merupakan sebuah realitas yang mengandaikan adanya bagian-bagian.Dengan demikian “the good” dapat didefinisikan dan “the good” tidak pernah identik dengan “good”.Menurut Moore, untuk mengetahui “apa yang baik” (the good) kita harus mengetahui terlebih dahulu arti kata “baik”. Menurut Moore, kadar kebaikan sebuah benda tidak dapat ditentukan oleh kebaikan bagian-bagiannya. Ada benda yang lebih dan kurang baik. Bisa saja terjadi bahwa kebaikan dua benda yang masing - masing memiliki kebaikan rendah seperti misalnya nikmat dan pengetahuan, memiliki kadar kebaikan yang tinggi kalau dipersatukan sebagai pengetahuan yang memberikan nikmat. Inilah teori Moore tentang “organic wholes”, satuan-satuan atau keutuhan-keutuhan organis. Teori ini mengatakan bahwa the value of a whole must not be assumed to be the same as the sum of the values of its parts. Dengan demikian menjadi jelas bahwa kesatuan yang terbangun atas beberapa bagian dapat memiliki nilai jauh lebih tinggi daripada jumlah nilai satuan masing-masing.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BD Speculative Philosophy
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 07 Nov 2019 05:20
Last Modified: 07 Nov 2019 05:20
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/788

Actions (login required)

View Item View Item