Makna Keselamatan Manusia Dalam Ritus Mata Ade Pandangan Masyarakat Adat Woewali-Kabupaten Ngada

BHODO, Vinsensius (2022) Makna Keselamatan Manusia Dalam Ritus Mata Ade Pandangan Masyarakat Adat Woewali-Kabupaten Ngada. Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (383kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (80kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (118kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (78kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (81kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (71kB)

Abstract

Manusia di manapun ia hidup dan dalam situasi apapun, senantiasa menjadi agen kebudayaan. Ia berjuang bertahan hidup di alam natural dengan menciptakan alam kultural yang bersifat dinamis. Patut diakui bahwa semenjak manusia ada, semenjak itu pula ada makna budaya dalam lingkungan kulturalnya. Namun kesadaran kritis tentang makna budaya sebagai tema refleksi insani, berkembang seiring kematangan dan dinamika peradaban suatu masyarakat di mana manusia itu ada dan bertumbuh. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan itu ialah adanya agama. Namun, agama tidak serta-merta menghapus budaya dalam masyarakat, karena keduanya memiliki relasi yang kuat. Budaya dapat menjadi media pewartaan bagi agama, dan agama dapat memfiltrasi norma dan nilai kebudayaan. Dalam konteks itulah masyarakat adat Woewali yang menganut ajaran agama Katolik Roma senantiasa memperbaharui dan menyelaraskan makna serta nilai-nilai budaya lokal dengan ajaran Gereja, tanpa menghilangkan kekhasan tradisi lokal. Gereja pun turut terbuka terhadap budaya dengan menghadirkan nilai-nilai religius yang inkulturatif. Sehingga penyelarasan makna dan nilai budaya dapat ditemukan dalam berbagai unsur budaya lokal seperti pada unsur religi maupun dalam berbagai pandangan hidup seperti dalam pandangan tentang makna keselamatan manusia dalam ritus mata ade. Mata ade bagi masyarakat adat Woewali adalah suatu keadaan di mana seseorang meninggal dunia secara wajar. Standar kewajaran itu dilihat dari penyebab seseorang meninggal, yaitu karena usia lanjut atau karena penyakit tertentu. Dalam kajian teologi budaya ini, penulis menemukan kesejajaran maupun ketidaksejajajaran makna keselamatan manusia dalam praktik budaya mata ade dan makna keselamatan manusia dalam ajaran Katolik. Dalam ajaran Katolik keselamatan itu pada dasarnya merupakan anugerah Allah. Allah yang pertama-tama berinisiatif menyelamatkan manusia melalui karya penebusan Yesus Kristus di Kayu Salib. Allah telah menyediakan Surga bagi setiap orang yang percaya akan karya penebusan itu dan bagi mereka yang mengimaniNya. Sementara dalam praktik budaya mata ade, situasi keselamatan itu dialami oleh orang meninggal apabila rohnya telah bertemu dengan roh para leluhur dan berdiam di tempat yang sudah dipersiapkan Dewa. Tempat itu digambarkan sebagai 'rumah khusus' (Sa'o Dodo), sebuah tempat yang indah (mia bila) dan terpisah, yang dalam bahasa lpka disebut da dongo gha ngia Sa'o Doso. Dengan demikian tempat atau situasi keselamatan itu merupakan pemberian Dewa, karena sudah dipersiapkan Dewa sejak semula. Tetapi untuk memasuki 'rumah khusus' atau Sa'o Dodo itu dibutuhkan usaha dan perjuangan manusia semasa hidup, maupun pada saat ia meninggal. Usaha itu dapat bersifat personal maupun bersifat kolektif. Ritus-ritus dalam mata ade mendefinisikan usaha kolektif itu sebagai tindakan sekelompok orang yang memperjuangkan agar roh orang yang meninggal dapat mengalami keselamatan. Hal tersebut mengungkapkan suatu pemahaman bahwa keselamatan manusia pada akhirnya dibenarkan melalui tindakan-tindakan atau ritus, di mana ritus mata ade dilihat sebagai 'jalan' agar roh orang yang meninggal dapat mengalami keselamatan. Dengan demikian, Surga dalam ajaran Katolik disejajarkan dengan Sa'o Dodo dalam praktik budaya mata ade pada masyarakat adat Woewali. Sementara ketidaksejajaran itu terletak dalam cara penyelamatan, di mana dalam ajaran Katolik keselamatan diperoleh melalui penebusan Kristus dengan kematiaanNya di Kayu Salib, sedangkan dalam praktik budaya mata ade cara penyelamatan itu dilaksanakan lewat ritus, dalam hal ini ritus mata ade. Kesejajaran maupun ketidaksejajaran tentang konsepsi dan makna keselamatan itu menggambarkan suatu sifat budaya yang dinamis, yang senantiasa diperbaharuu mellaui refleksi kritis dalam setiap peradaban meakipun tidak menghilangkan keunikan tradisi lokal, sekaligus menunjukan sifat inkulturatif Gereja dalam usahanya menyebarluaskan nilai-nilai Injili pada setiap lapisan budaya masyarakat. Karena itulah Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apapun yang dalam budaya diyakini benar dan suci, tetapi menampung segala kekayaan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh ity baik, sekaligus memurnikan serta menguatkannya (LG 13).

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Keselamatan, Masyarakat adat Woewali, Mata ade
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Fil Vinsensius Bhodo
Date Deposited: 12 Sep 2022 06:30
Last Modified: 12 Sep 2022 06:30
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/8661

Actions (login required)

View Item View Item