Pola Penginjilan Santo Paulus Menurut Kisah Para Rasul Bab 9-20 Dan Implikasinya Bagi Karya Misi Di Masa Kini

DO NASCIMENTO, Pedro Noronha (2019) Pola Penginjilan Santo Paulus Menurut Kisah Para Rasul Bab 9-20 Dan Implikasinya Bagi Karya Misi Di Masa Kini. Diploma thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
ABSTRAKSI.pdf

Download (377kB)
[img] Text
BAB 1.pdf

Download (114kB)
[img] Text
BAB 2.pdf

Download (337kB)
[img] Text
BAB 3.pdf

Download (215kB)
[img] Text
BAB 4.pdf

Download (332kB)
[img] Text
BAB 5.pdf

Download (112kB)

Abstract

Latar belakang mendasar yang menggerakkan saya ingin mendalami judul di atas adalah sosok Rasul Paulus sendiri. Rasul Paulus merupakan sosok pribadi yang sangat mengagumkan sekaligus menarik untuk menjadi kajian studi yang tidak berkesudahan. Mengapa demikian? Sebelum menjadi rasul Tuhan Yesus Kristus, ia mengaku diri sebagai seorang Farisi (Fil. 3: 5) yang “jauh lebih maju” di antara teman sebayanya dalam hal agama Yahudi. Kesetiaannya terhadap Hukum Taurat ia buktikan dengan cara “menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya” (Gal. 1: 13-14). Namun setelah menjadi rasul Tuhan Yesus Kristus, ia menganggap apa yang dahulu sangat ia banggakan itu, tidak lebih hanya sebagai “sampah” karena kemuliaan akan pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus (Fil. 3: 8). Menarik juga untuk diperhatikan ialah bahwa setelah bertobat, rasul Paulus tidak bergabung dengan masyarakat Kristen Yahudi di Yerusalem bersama-sama dengan para rasul Tuhan Yesus yang lain, melainkan justru bergabung dengan masyarakat Kristen Yahudi Hellenis yang ada di Damasksus, dan akhirnya di Antiokia, sebelum pada akhirnya menjadi rasul yang mandiri. Mengingat latar belakang ke-Yahudiannya dan bahkan hidupnya selaku seorang Farisi dengan segala tradisi keagamaannya, seharusnya akan lebih mudah bagi rasul Paulus untuk bergabung dengan masyarakat Kristen Yahudi di Yerusalem daripada dengan masyarakat Kristen Yahudi Hellenis baik yang ada di Damaskus maupun di Antiokia. Bahkan sebagai orang yang merasa telah “ditangkap” (Fil. 3: 12) oleh Kristus, ia pun memberikan seluruh hidupnya untuk memberitakan Kristus yang disalibkan kepada orang-orang non- Yahudi (Gal. 1: 16; 2: 2, 8-9; Roma 11: 13). Dengan demikian dalam melaksanakan fungsi kerasulannya, rasul Paulus telah menerobos batasan-batasan suku, budaya dan keagamaan. Ketika kita menyimak semua yang dikatakan tentang karya Rasul Paulus maka tdaklah berlebihan jika Rasul Paulus dipandang sebagai misionaris yang paling berhasil sepanjang sejarah kekristenan hingga kini. Keberhasilan dalam pelayanan Rasul Paulus ini sangat didukung oleh banyak faktor. Tentu pertama-tama diyakini bahwa Roh Kuduslah yang bekerja dalam kehidupan Paulus dan dalam setiap pemberitaannya. Roh Kudus yang membuat seseorang menerima dan berubah oleh berita Injil itu. Hal lain yang mendukung kesuksesan karya penginjilan itu adalah strategi Rasul Paulus dalam perjalanan misinya. Pola penginjilan Paulus dapat dikatakan unik dan berhasil. Paulus mendirikan jemaat-jemaat Kristus di kota-kota besar seperti Filipi, Efesus, dan sebagainya. Setelah jemaat kuat, jemaat itu mengutus Paulus dan mendukung pelayanannya ke tempat-tempat yang baru. Contohnya, jemaat Filipi yang mendukung pendanaan perjalanan misi Paulus. Ia berkhotbah, berkunjung ke rumah-rumah jemaat, berdiskusi, dan membuat mujizat dalam nama Yesus. Tempat-tempat yang digunakan untuk memberitakan Injil sangat strategis yaitu di sinagoge, di pasar-pasar, di rumah-rumah, dan di tempat belajar (Tiranus). Bahkan di penjara sekalipun ia memberitakan Injil dan banyak orang yang percaya kepada Yesus. Selain itu, ia menulis surat kepada jemaat-jemaat yang pernah didirikannya dan surat itu dibacakan bergantian, sehingga menguatkan iman pembacanya. Dalam pelayanannya Paulus juga menggunakan jalur darat dan laut. Tetapi kebanyakan ia berjalan kaki. Tujuannya agar ia dapat bertemu langsung dengan banyak orang sehingga semakin banyak orang yang mendengar Injil. Kelebihan pola penginjilan Paulus juga ditunjukkan dengan kemandiriannya untuk membiayai pelayanannya dan tidak mengkomersialkan pelayanannya. Ia bekerja sebagai pembuat tenda. Walaupun tidak ada fasilitas yang cukup untuknya seperti sponsor, alat transportasi, dan lain- lain tetapi hal-hal tersebut tidak mengendorkan semangatnya dalam memberitakan Injil Hasil pelayanan Paulus tentu saja dapat dilihat dari berdirinya gereja-gereja di banyak tempat. Banyak orang Yahudi atau bukan Yahudi yang menjadi percaya kepada Kristus. Tulisan-tulisannya meneguhkan iman orang-orang percaya dan memberikan pemahaman iman Kristen yang paling solid dan lengkap. Kelebihan Paulus dalam penginjilannya bukan semata-mata karena kamampuannya tetapi karena kasih karunia Tuhan yang telah melimpah dalam hidupnya. Dialah Paulus, seorang penginjil yang hebat. Penginjilan merupakan keharusan bagi setiap murid Kristus. Penginjilan bisa dilakukan secara masal seperti ceramah rohani, rekoleksi dan lain-lain. Tetapi juga bisa dilakukan melalui penginjilan pribadi dan kelompok. Semuanya ini bisa dilakukan dan saling melengkapi. Penginjilan juga bisa secara langsung bertemu dengan orang tertentu kemudian bercakap-cakap dan memberitakan Injil kepadanya. Selain itu, penginjilan juga bisa secara tidak langsung yaitu lewat radio, televisi, khotbah, dan lain sebagainya. Kewajiban mewartakan Injil adalah tanggung jawab setiap orang yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya. Setiap kita yang percaya wajib mengabarkan Injil sesuai kemampuan dan karunia-karunia yang dianugerahkan Roh Kudus kepada kita. Dengan mendalami pola atau strategi strategi penginjilan Rasul Paulus diharapkan setiap orang percaya dapat dibekali untuk lebih efektif dan maksimal dalam pemberitaan Injil Tuhan atau karya misi di zaman sekarang. Oleh karena itu, setelah penulis mengamati dan mempelajari strategi pengijilan yang dilakukan oleh Rasul Paulus dalam Kitab Kisah Para Rasul Bab 9-20 maka penulis meyakini bahwa melalui strategi penginjilan yang dilakukan oleh Rasul Paulus pada masa pelayanannya masih relevan dan dapat diterapkan oleh para penginjil masa kini tanpa mengurangi nilai kebenaran Firman Allah. Usaha penginjilan akan berhasil apabila adanya strategi penginjilan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasul Paulus dalam Kitab Kisah Para Rasul.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BS The Bible
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology > BV1460 Religious Education
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Ptk Dami Damianus
Date Deposited: 05 Dec 2019 01:12
Last Modified: 05 Dec 2019 01:12
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/879

Actions (login required)

View Item View Item