Penti Pada Masyarakat Desa Golo Mendo, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai Dan Makna Filosofis Religiusnya Dalam Kehidupan Bermasyarakat

PALUS, Silfanus (2021) Penti Pada Masyarakat Desa Golo Mendo, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai Dan Makna Filosofis Religiusnya Dalam Kehidupan Bermasyarakat. Undergraduate thesis, Unika Widya Mandira.

[img] Text
SKRIPSI COVER-KATA PENGANTAR-DAFTAR ISI_compressed.pdf

Download (233kB)
[img] Text
SKRIPSI BAB 1.pdf

Download (592kB)
[img] Text
SKRIPSI BAB 2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (721kB)
[img] Text
SKRIPSI BAB 3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] Text
SKRIPSI BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (521kB)
[img] Text
SKRIPSI BAB 5.pdf

Download (501kB)

Abstract

Diskursus mengenai manusia dalam satu peradaban tertentu tidak terlepas dari pengaruh dunia sekitar. Kurang sadarnya manusia atas keberadaan dunia sekitar merujuk pada melemahnya eksistensi manusia. Misalnya, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dalam kehadiranya membutuhkan kesadaran yang total untuk melihat efek samping dari semuanya. Ratio menjadi satu media terbentuknya manusia melakukan pertimbangan kritis terhadap dunia sekitarnya sehingga tidak terjebak pada problematika yang mengganggu kehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal ini peradaban atau kebudayaan berperan sangat penting. Tindakan sebagai representasi atas kehendak manusia di sini berperan sentral. Dengan demikian substansi dari kebudayaan sungguh menghadirkan wajah baru bagi perkembangan hidup manusia itu sendiri. Hal ini tidak terlepas dari refleksi manusia atas sejarah peradabannya. Refleksi filosofis religius adalah salah satu metodenya. Kenyataan menunjukan juga bahwa alam raya dan segala isinya menjadikan manusia sebagai satu kebudayaan yang sempurna. Kenyataan ini tidak lalu berarti manusia berlaku sewenang – wenang atas alam semesta, melainkan mengolahnya sehingga menjadi satu spirit untuk bersahabat dengan alam melalui tindakan syukuran yang dilakukan oleh manusia sendiri. Manusia diberi cap sebagai tuan dan abdi sekaligus. Dengan akal budi yang dianugerahkan oleh sang Pencipta, manusia berusaha mengembangkan dirinya dalam berbagai bentuk produk – produk budaya, misalnya adat – istiadat, kesenian, sistem kepercayaan, ekonomi, teknologi, dan lain – lain, dan semuanya itu untuk memperoleh kesempurnaan hidup pada manusia sendiri. Apabila manusia dengan karya tanganya maupun dengan teknologi mengolah alam, ia dapat menghasilkan buah dan menjadi kediaman yang layak bagi segenap keluarga manusia sendiri. Apabilah manusia dengan sadar memainkan perananya dalam kehidupan bermasyarakat, maka manusia menjadi nyata diberi gelar perpanjangan tangan Tuhan yang dimaklumkan awal mula sejak diciptakan, yakni menguasai dunia serta menyempurnakan alam ciptaan dan megembangkan dirinya. Dengan ini pula manusia yang percaya kepada Tuhan mematuhi perintah Tuhan yang mulia dengan mengabdikan diri kepada sesama. Pada umumnya, masyarakat Manggarai adalah masyarakat agraris. Hal ini dapat dilihat dengan tidak terpisahnya manusia Manggarai dari kegiatan bertani dan berkebun. Oleh karena itu tidak mengherankan jika daerah Manggarai sebagai salah satu aset daerah yang memiliki hasil bumi yang cukup banyak,seperti kopi,cengkeh,kemiri,kakao,padi dan lain– lain. Salah satu warisan dari leluhur yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Mangarai umumnya, dan masyarakat Golo Mendo khususnya adalah acara Adat Penti. Upacara Penti merupakan upacara yang sering dilakukan oleh seluruh masyarakat Manggarai untuk mensyukuri segalah berkat yang diberikan oleh Mori Jari Dedek “Tuhan sang Pencipta”, melalui ata pala sina, “arwah para leluhur” atas tanaman padi yang siap untuk dipanen, sehingga telah tibah saatnya untuk memetik hasil buahnya, dan juga sebagai tanda syukur atas pergantian tahun. Bahwa tahun berlalu dipercayakan oleh orang Mendo, tidak terlepas dari doa para leluhur. Masyarakat desa Golo Mendo, sebagai bagian tidak terpisahkan dari daerah Manggarai adalah masyarakat agraris yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas pertanian. Salah satu upacara yang melekat erat dengan dunia pertanian adalah “upacara syukuran”. Untuk masyarakat Manggarai umumnya dan masyarakat Desa Golo Mendo Khususnya, upacara itu dikenal dengan upacara “Penti”. Upacara Penti adalah upacara syukuran sekaligus mohon berkat atas hasil panen melalui Ata Pala Sina “arwah para leluhur atau roh nenek moyang” kepada Mori Jari Dedek “ Tuhan Sang Pencipta”. Corak religius orang Manggarai umumnya dan orang Mendo khususnya, terkait erat dengan norma dan jenis upacara adat serta nilai – nilai yang terkandung didalamnya. Upacara adat yang biasa dilakukan oleh orang Mendo merupakan rangkaian kehidupan atau bagian dari kehidupan masyarakat; karena semua upacara yang terjadi, selain sebagai upacara adat, tetapi juga berfungsi sebagai pendidikan bagi masyarakat, karena upacara yang dilakukan dihaapkan dapat dilakukan secara turun temurun. Berdasarkan observasi belakangan ini yang penulis alami dan lihat bahwa masyarakat Golo Mendo sudah jarang memperaktekan ritual adat Penti. Alasan yang mendasar yang penulis alami dan lihat yakni kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis melihat satu erosi nilai yang dialami oleh masyarakat Golo Mendo, dalam hal ini untuk bertindak sebagai perealisasian kehendak dalam hubunganya dengan yang supranatural dan alam gaib terutama melalui rasa syukur kepada Mori Jari Dedek “Tuhan sang Pencipta” melalui Ata pala sina “Arwa para leluhur” atas hasil panen yang dimiliki. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ditanggapi secara salah oleh masyarakat Golo Mendo. Dimana dengan kehadiran ilmu pengetahuan yang dimiliki,bukanya mereka melihatnya dari aspek positif sebagai kekayaan dunia dalam mengungkapkan eksistensi mereka sebagai masyarakat berbudaya, yang terjadi malah sebaliknya bahwa masyarakat Golo Mendo mulai menenun semangat peradapan hidup baru yakni terkurung dalam sikap egoisme dan melalaikan untuk tidak melaksanakan ritual yang sudah diwariskan oleh nenek moyang mereka sebagai jalan dalam perjumpaan dengan yang supranatural. Intinya bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menggeser nilai – nilai budaya yang telah lama dianut masyarakat. Keberadaan makna filosofis sebagai causa finalis dalam penelitian ini terdapat dalam filsafat manusia dan filsafat sosial yang mengedepankan penghargaan terhadap kemanusiaan dan semangat gotong royong. Hal ini termasuk semua dalam seluruh proses dari acara Penti itu sendiri sampai puncaknya. Sementara itu keberadaan makna religius dari acara Penti terkandung dalam rasa syukur dan mohon berkat untuk kehidupan di hari yang akan datang kepada Mori Jari Dedek “ Tuhan sang Pencipta”, melalui Ata Pala Sina “ Arwah Leluhur”, Sesungguhnya segala hal yang dilakukan tidak terlepas dari doa dari arwah leluhur kepada Tuhan, sehingga patut untuk diberi hormat melalui acara Penti yang dilakukan

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs
J Political Science > JS Local government Municipal government
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Kom Sela Mikado
Date Deposited: 10 Jun 2022 03:33
Last Modified: 10 Jun 2022 03:33
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/5615

Actions (login required)

View Item View Item