“Welli” Dalam Perkawinan Adat Ndengngi Winni Pare Pada Masyarakat Desa Menne Ate Kabupaten Sumba Barat Daya (Tinjauan Moral)

BULU, Emanuel Kadi (2017) “Welli” Dalam Perkawinan Adat Ndengngi Winni Pare Pada Masyarakat Desa Menne Ate Kabupaten Sumba Barat Daya (Tinjauan Moral). Undergraduate thesis, Universitas Katolik Widya Mandira.

[img] Text
02 ABSTRAKSI.pdf

Download (118kB)
[img] Text
03 BAB I.pdf

Download (62kB)
[img] Text
04 BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (48kB)
[img] Text
05 BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (70kB)
[img] Text
06 BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (196kB)
[img] Text
07 BAB V.pdf

Download (130kB)

Abstract

Kebudayaan di pandang sebagai fenomena yang bersifat ganda sekaligus hilostik sehingga antara kompenen budaya yang satu dan yang lain saling berhubungan dan saling memberi makna secara asosiatif. Kebudayaan sebagai gejala kemanuisaan yang mengacu pada sikap, konsepsi, ideologi, perilaku, kebiasaan, karya kreatif dan sebagainya. Dengan kata lain kebudayaan merupakan fakta yang kompleks karena memiliki kekhasan pada batas-batas tertentu juga memiliki ciri yang sifatnya universal. Dalam setiap budaya memiliki nilai-nilai moral yang menjadi dasar pijakan oleh manusia yang menghayati budaya tersebut. Budaya yang di kembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang, karena suatu budaya memancarkan sebuah ciri khas dari masyarakat. Dengannya orang dapat mengetahui mengapa suatu linkungan tertentu berbeda dengan lingkungan lain dan menghasilkan praktik kebudayaan yang berbeda pula. Demikian halnya pada masyarakat Sumba Barat Daya khususnya dalam ritus perkawinan adatnya memiliki perbedaan sesuai dengan kebiasaan masing-masing. Disamping memiliki kekhasan kebudayaan ini juga memiliki atau mengandung nilai-nilai budaya yang berimplikasi 12 pada pola tata laku, norma-norma dan dan aspek kehidupan lainnya. Nilai-nilai ini merupakan standar perilaku dalam berinteraksi sosial, yang harus di taati oleh seluruh warga masyarakat agar rasa persaudaraan dan keharmonisan tetap terjaga dalam masyarakat. Pada umumnya masyarakat Sumba dan Desa menne Ate khususnya adalah sekelompok manuisa berbudaya. Sebagai insan yang berbudaya mereka menciptakan sekaligus sebagai pelaku kebudayaan. Konkretisasi akan perana mereka termaktub dalam berbagai upacara-upacara adat. Salah satunya adalah upacar adat ndengngi wini pare. Upacara adat ndengngi winni pare adalah salah satu upacara adat untuk melamar seorang gadis yang masih bujang. Ndengngi artinya meminta, winni artinya bibit dan pare artinya padi. Seorang gadis yang dilamar di umpamakan seperti bibit padi karena ia belum menikah atau belum memiliki suami. Tahap ndenggi winni pare merupakan tahap awal penyampaian isi hati untuk melamar seorang gadis. Tahap ini menjadi penentu apakah dilanjutkan ketahap berikut. Apabila keluarga pihak perempuan menerima permintaan dari keluarga pihak laki-laki maka keluarga pihak perempuan memberikan kain sarung dan sebaliknya keluarga pihak laki-laki memberikan sebatang parang sebagai tanda penghargaan dan juga akan dilanjutkan ketahap berikut yaitu kettena katonga. Kettena berarti mengikat, katongan artinya bale-bale. Sebenarnya bukan bale- bale yang di ikat tetapi pengukuhan apa yang sudah di sepakati bersama pada saat ndengngi 13 winni pare. Tahap ketena katonga merupakan tahap inti dimana menentukan jumlah welli baik welli ketena katongan maupun welli pada saat dikki. Tahap ini sangat menguras waktu dan tenaga butuh kesabaran yang panjang karena ada tawar menewar tentang welli. Welli memiliki peranan yang sangat subtansial karena dalam proses perkawinana adat hal pertama dan utama adalah belis. Dalam tradisi atau kebiasaan masyarakat Sumba, sebuah perkawinan yang tidak memiliki belis adalah perkawinan yang tidak syah secara adat dan tidak di akui oleh keluarga pihak perempuan. Tahap berikutnya adalah dikki. Dikki artinya pindah. Yang dimaksudkan pindah adalah perempuan beralih status dari suku orang tuanya kesuku suaminya dan juga beralih status dari bujang menjadi seorang istri. Dikki menjadi tahap terakhir dalam perkawinan ndengngi winni pare, karena pada tahap ini tidak ada lagi tawar-menawar mengenai belis karena sudah disepakati pada saat kettena katonga. Dikki merupakan tahap yang di tunggu-tunggu baik lakilaki, perempuan dan juga kedua orang tua dari laki-laki. Saat di mana laki-laki dan perempuan memulai suatu hidup yang baru yaitu sebagai suami dan istri. Saat di mana perempuan sudah lepas dari tanggungjawab orangtuanya. Segala hal yang di butuhkan oleh perempuan sudah menjadi tanggujawab suami dan juga orangtau dari laki-laki. Tetapi yang bertanggungjawab penuh adalah laki-laki karena dialah yang menjadi kepala keluarga. 14 Dengan berakhirnya dikki maka seluruh rangkaian acara adat perkawinan juga berakhir. Walaupun masih ada belis yang belum di lunasi tetapi itu di berikan dalam jangka waktu yang panjang. Belis ini menjadi tanggungjawab laki-laki dan perempuan, itu disebut ranga pagelaradi oma pabellekadi kaneka (hewan yang di berikan setelah laki-laki dan perempuan memiliki penghasilan sendiri). Biasanya sebelum seluruh rangkaian adat selesai orang tua perempuan memberikan kata-kata peneguhan kepada laki-laki dan perempuan dalam bahasa adat ”pamendera la’imu pamendera ma winnemu ndia ba mate ia tekki ia kako mi” artinya jagalah suamimu, jagalah istrimu sampai maut memisahkan kamu harus sekata dan seperjalanan

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
B Philosophy. Psychology. Religion > BJ Ethics
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Filsafat > Program Studi Ilmu Filsafat
Depositing User: S.Fil Lake Primus Sani
Date Deposited: 08 Sep 2022 07:32
Last Modified: 08 Sep 2022 07:32
URI: http://repository.unwira.ac.id/id/eprint/8577

Actions (login required)

View Item View Item